Metropostnews.com | LEBAK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak terus memperkuat upaya percepatan penanganan dan pencegahan stunting melalui kombinasi intervensi gizi spesifik dan intervensi sensitif. Langkah tersebut dinilai efektif dalam menurunkan angka stunting sekaligus mencegah munculnya kasus baru di masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala
Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Lebak, Widy Ferdian, mengatakan strategi tersebut menjadi fokus pemerintah daerah dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan anak dan mewujudkan Generasi Emas 2045.
“Melalui kombinasi intervensi spesifik dan sensitif, penanganan serta pencegahan stunting dinilai lebih efektif karena menyentuh aspek kesehatan sekaligus faktor pendukung lainnya,” kata Widy saat Rapat Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Lebak, Kamis (18/06/2026).
Menurutnya, intervensi spesifik merupakan penanganan yang berhubungan langsung dengan aspek gizi dan kesehatan, seperti pemberian makanan bergizi, imunisasi, pemeriksaan kehamilan secara rutin, serta pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi ibu hamil.
Sementara itu, intervensi sensitif dilakukan melalui penyediaan sarana air bersih, sanitasi yang layak, bantuan sosial, hingga perbaikan kondisi lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Widy menjelaskan, upaya pencegahan stunting juga difokuskan pada pemenuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Selain itu, pemerintah memprioritaskan penanganan pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang menjadi periode penting dalam pertumbuhan anak.
Program tersebut mencakup pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif hingga usia enam bulan, pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang kaya protein hewani mulai usia enam bulan, serta pemantauan pertumbuhan anak secara rutin melalui Posyandu.
“Setiap bayi dan balita yang menjadi sasaran penanganan stunting dipantau secara berkala melalui penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, imunisasi rutin, serta tata laksana sesuai pedoman kesehatan,” ujarnya.
Selain menyasar ibu dan anak, pemerintah daerah juga melakukan intervensi sejak usia remaja. Salah satunya melalui pemberian Tablet Tambah Darah kepada remaja putri, khususnya pelajar, serta edukasi kesehatan reproduksi bagi calon pengantin melalui aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil) milik Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
“Kami berkomitmen melakukan berbagai intervensi agar Kabupaten Lebak terbebas dari kasus stunting baru dan mampu mempersiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045,” kata Widy.
Sementara itu, Sekretaris Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Lebak, Tuti Nurasiah, mengatakan upaya pencegahan juga dilakukan terhadap Keluarga Risiko Stunting (KRS) dengan melibatkan berbagai perangkat daerah dan pemangku kepentingan.
Menurut Tuti, jumlah KRS di Kabupaten Lebak menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir, dari sekitar 162.000 keluarga menjadi 43.088 keluarga pada tahun 2025.
Ia menjelaskan, penanganan KRS dilakukan sesuai dengan kondisi yang dihadapi masing-masing keluarga. Jika ditemukan rumah tidak layak huni, maka akan dikoordinasikan dengan instansi terkait untuk mendapatkan program bantuan perumahan. Begitu pula jika permasalahan disebabkan oleh sanitasi yang kurang memadai atau keterbatasan akses air bersih, maka akan dilaporkan kepada dinas terkait untuk ditindaklanjuti.
Selain itu, keluarga yang mengalami kekurangan akses terhadap makanan bergizi akan mendapatkan dukungan melalui program kesehatan dan bantuan pangan, sedangkan keluarga yang masuk kategori miskin dapat diusulkan untuk menerima bantuan sosial sesuai ketentuan yang berlaku.
“Penanganan Keluarga Risiko Stunting dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan instansi yang memiliki program sesuai kebutuhan masyarakat, sehingga intervensi yang diberikan dapat lebih tepat sasaran,” kata Tuti.
Pemkab Lebak berharap sinergi lintas sektor tersebut dapat mempercepat penurunan angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah secara berkelanjutan. (Ajat)

