METROPOSTNews.com | Majalengka — Di tengah sepinya terkait pembicaraan mengenai kasus HIV/AIDS, di Kabupaten Majalengka cukup mengkhawatirkan.
Potensi munculnya kasus baru juga dinilai cukup terbuka lebar.
Kondisi tersebut memicu tenaga medis di Puskesmas Jatitujuh beserta Komunitas Hujan Keruh menggelar sosialisasi seputar HIV/AIDS, Selasa 7 Desember 2021.
Sosialisasi tersebut sekaligus dalam peringatan hari AIDS tahun 2021.
Programer HIV/AIDS Puskesmas Jatitujuh, Yuliyanti mengatakan, dalam kurun waktu 10 bulan, sejak Maret 2021 lalu, sudah ada 3 kasus HIV di wilayah tempatnya bekerja.
Secara riil, kasus serupa tidak menutup kemungkinan masih banyak, melebihi kasus yang tercatat. Minggu 5 Desember 2021.
“Tiga kasus ini, kalau secara angka mungkin kecil. Tapi ini bukan tentang itu,” kata Yuliyanti.
“Ingat kan, kasus ini seperti fenomena gunung es. Dan yang lebih mengkhawatirkan, yang berisiko pun cukup banyak,” ucapnya.
Dari tiga kasus yang ditemui, kebanyakan berawal dari hubungan seks yang tidak aman. 1 di antaranya diketahui berstatus sebagai ibu rumah tangga.
“IRT 1 LSL (Lelaki seks lelaki) 2. Selain tiga orang itu, sebenarnya ada juga yang di luar Jatitujuh yang sharing dengan saya,” tuturnya.
“Dari Maret sampai sekarang total ada 8, dan kebanyakan berawal hubungan sex yang tidak aman,” jelas dia.
Dengan adanya peringatan hari AIDS tersebut, diharapkan bisa memberi pelajaran, baik bagi mereka yang terindikasi mengidap HIV/AIDS maupun warga pada umumnya.
Pasalnya, selama ini ada anggapan miring terhadap penderita, yang membuat mereka (penderita) minder dan tidak terbuka kepada petugas.
“Basic saya programer HIV. Saya terlalu jatuh cinta kepada program ini,” kata panitia peringatan hari AIDS.
“Masih sangat kurang pemahaman IMS itu apa, HIV itu apa, sampai penyebab HIV itu sendiri,”ucapnya.
“Makanya, dari momen ini, diharapkan bisa menjadi awal dari kesadaran kita semua terhadap hal-hal seperti itu,” jelas dia yang juga panitia peringatan Hari AIDS itu
Senada dengan Yuliyanti, tujuan serupa juga menjadi pertimbangan komunitas Hujan Keruh ambil bagian.
Bagi komunitas ini, masalah HIV/AIDS perlu mendapat perhatian dari semua kalangan.
“Komunitas kami selama ini bergerak di bidang seni dan sosial,”tuturnya.
“Kita tahu, dari kasus HIV/AIDS kadang orangnya dijauhi, dikucilkan. Dan kami tidak ingin itu terus terjadi,” jelas dia.
Dengan aktivitasnya di bidang seni dan sosial, diharapkan ke depan bisa terjalin hubungan dengan mereka yang hidup bersama HIV/AIDS itu.
“Penanganan secara medis, jelas kami tidak bisa,” tuturnya.
“Tapi setidaknya, kami mungkin bisa memfasilitasi mereka untuk mendapat pendampingan dari pihak-pihak yang memang paham,” jelasnya. (Ade)




