Metropostnews.com|Kabupaten Tangerang – Sungguh miris sekali, seorang ibu rumah tangga Asni (45) warga kampung Ciatuy Desa Sodong, Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang, bersama suaminya Jemar (57) yang memiliki keterbelakangan mental, telah puluhan tahun menempati rumah tak layak huni dan hidup serba kekurangan.
Ironisnya lagi, lokasi rumah mereka berada hanya kisaran ratusan meter dari Kantor Pemerintahan Kabupaten Tangerang.
Pantauan Metropostnews.com, Rumah Asmi tidak begitu luas dan berdindingkan anyaman bambu yang sudah lapuk, lantai rumah pun hanya dari sisa belahan keramik, dengan atapnya pun separuhnya hanya ditutup karpet, membuat rumah tersebut jauh dari kata layak huni.
“Sebetulnya kami berharap tinggal di tempat yang layak, namun apa daya untuk makan saja kami susah boro-boro buat bangun rumah” kata Asni.
Demikian dikatakan Asni saat ditemui yang mengaku terpaksa harus tinggal di tempat yang jauh dari kata layak.
“Dulu ada yang mau membantu untuk membedah tapi abahnya menolak tidak mau katanya takutnya rumah kami hanya di berantakin saja, beres mah ngga itu pembangunannya, karena untuk nambahin kekurangannya kami dari mana kami tidak mempunyai uang untuk nambahinnya,” kata Asni, Rabu 24 Mei 2023.
Asni menginginkan rumahnya itu mendapatkan bantuan pembangunan secara penuh tanpa harus mengeluarkan uang tambahan.
“Saya mau di bantu tapi pembangunannya semuanya tanpa harus mengeluarkan tambahannya lagi, karena dengar-dengar disini kan ada juga bedah rumah, katanya, kita harus nambahin kekurangannya karena kalau ngandelin bantuan mah itu ngga akan cukup makannya Abah gak mau,” jelasnya.
Disinggung soal bantuan sosial yang lainnya, ia mengaku hanya mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT), meski kartu berwarna kuning dan kartu merah putih itu ia miliki, namun bantuan jenis beras dan telur tak pernah ia dapatkan dari pemerintah.
“Kartunya mah ada yang warna kuning satu yang merah putih satu, itu juga bantuannya mah gak dapet dari semenjak dapat kartu itu gak pernah dapet sumbangan, memang belum pernah di tanyain sama sekali, karena saya gak sempet, sayanya dulu kerja ibu rumah tangga jadi ngga sempet,” tambahnya.
Sambung Asni mengatakan, semenjak dia memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga, untuk menghidupi keluarganya itu terpaksa ia harus berjualan kecil-kecilan di rumahnya dengan penghasilan yang tidak menentu di dapatkannya.
“Saya jualan kecil-kecilan buat menutupi dapur, kalau gak gini kan saya dari mana abah kan udah gak kerja, udah sakit sakitan. Kadang penghasilan jualan dapet 9 ribu atau 10 ribu tergantung rame nya, kalau lagi rame dapet 45 ribu bahkan sempet sama sekali ngga dapet,” kata Asni.
Asni berharap pemerintah Kabupaten Tangerang agar dapat memperhatikan kondisi rumahnya yang tidak layak huni dengan cara melakukan bantuan pembangunan bedah rumah secara total.
Sementara, Kepala Desa (Kades) Sodong melalui Sekdes Dandi saat ditemui di Kantornya menjelaskan, sebagai pemerintahan Desa pihaknya mempunyai kewajiban untuk Memperbaiki tarap hidup warganya dengan terlebih dahulu melakukan Komunikasi dengan pemilik rumah yang menurutnya susah untuk di ajak komunikasi.
“Yang jelas itu sudah menjadi kewajiban Kami selaku pemerintahan Desa untuk Memperbaiki tarap hidup warga kami, Saya kan tadi sudah cerita tentang kronologi Pak Jemar, kami bukan tidak pernah menawar kan bantuan karena beliaunya susah di ajak komunikasi, itu yang menjadi kendala,” Tandasnya.
Kendati demikian, Dendi mengatakan Pihak nya akan lebih Intens lagi melakukan pendekatan dan melakukan komunikasi dengan menantu pemilik Rumah tersebut, karena kata Dia, kalau langsung Berkomunikasi dengan Pemilik nya itu sulit.
“Dengan ada nya kerja sama ini Mudah-mudahan kita bisa melakukan pendekatan, agar yang pertama itu Bangunan nya bisa di renovasi”kata Dandi. (Bintang)
