Ditulis Oleh Dian Wahyudi, Ketua Generasi Muda (GEMA) Keadilan Lebak
Dalam dunia informasi, Desain Kreatif memiliki pengertian, citra yang dihasilkan komputer dan animasi digital yang dibuat untuk memvisualisasikan produk potensial.
Desain kreatif termasuk desain yang unik, efektif dan mudah diingat. Ini melibatkan keluar dari cara Anda untuk membuatnya unik.
Unik sepertinya memang selalu dekat dengan kreatif. Berangkat dari Ide berkembang dan membuncah menjadi karya kreatif bernilai seni.
Namun disini, saya tidak akan membicarakan tentang Desain Kreatif secara virtual, tetapi lebih kepada kreatifitas dalam bentuk visual, yang tentunya tetap bernilai unik.
Dua hari kemarin (13-14/3) saya bertemu dengan dua komunitas berbeda yang bagi saya sangat berkesan.
Pertama, Komunitas Ekraf (Ekonomi Kreatif) Curugbitung, yang disingkat menjadi Cekraf. Saya bertemu komunitas ini di rumah Jaro Rudi, demikian beliau dipanggil, di kampung Ciburuy kecamatan Curugbitung, kabupaten Lebak.
Di saung-saung disekitaran rumah Jaro Rudi ini, ada sekitar 10 sampai 15 orang berkumpul setiap harinya. Disulap menjadi saung kreatif, saung kerja.
Saat saya kemarin kesini, mereka sedang beraktivitas membuat berbagai kreasi kerajinan berbahan bambu, dari mulai tempat air minum, baki, gelas, tempat tisu, kursi tamu, tempat pulpen, tempat sendok, miniatur bunyi-bunyian untuk kolam ikan yang unik, tempat untuk parsel buah, sampai miniatur perahu pinisi.
Menurut kordinator komunitas, Junaedi yang saya temui, komunitas ini berdiri belum genap setahun. Tujuannya adalah berangkat dari ide-ide unik pemanfaatan potensi alam sekitar, utamanya bahan bambu yang cukup banyak disekitar mereka.
Mendesain Kreatif bagi saya merupakan hal berat. Menemukan ide sampai mewujudkannya lebih berat lagi. Namun para pemuda ini telah menemukan dunianya, bahkan pelan namun pasti sudah mulai menghasilkan rupiah, lewat berbagai pesanan yang ada, serta lewat berbagai promosi yang dilakukan, baik offline maupun online di media sosial.
Di era Kolaborasi saat ini, Komunitas Ekraf semoga menjadi pilar kreativitas dan tumbuhkan kesadaran bahwa dengan kebersamaan, semua kondisi kelesuan di tengah era pandemi Covid-19 dapat dilalui dan diisi dengan menghasilkan produk kreatif yang bermanfaat.
Kedua, Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) kabupaten Lebak, yang disaat saya bertemu dengan mereka, baru saja dilantik.
Mas Sidik, relawan Forum TBM di kecamatan Cilograng sana, jauh dari keramaian kota Rangkasbitung, didapuk menjadi ketua Forum yang baru.
Relawan yang bagi saya sama beratnya, yang bagi mereka nikmati dengan suka cita. Bagaimana tidak ? Berbagai TBM yang ada di kabupaten Lebak tersebut melakukan edukasi literasi kepada anak-anak dan pemuda, mewujudkan Lebak Cerdas agar menjadi manusia yang berdaya, menjadi generasi yang bukan hanya melek tulisan dan membaca juga manusia yang berbudaya.
Tantangan menarik yang telah menghampiri, dengan bertempat di Markas Bataliyon Mandala Yudha, Forum ini mewujudkan Pojok Baca di Markas Tentara. Wow…
Tangan dingin penasehat dan “provokator’ Forum Ka Tono, Ka Budi, kang Wandi, memberikan Desain Kreatif yang unik melalui saung-saung di lahan milik Batalion Cakra ini, sehingga lebih Humanis.
Danyon Batalion Mandala Yudha Kol.Inf. Slamet yang menyempatkan bertemu dengan kami, ide-idenya tak kalah bernas. Beliau berharap kedepan, Pojok Baca tersebut, saung-saung dan wahana yang tersedia, dapat dimanfaatkan oleh semua kalangan.
Tempat ini bisa menjadi Pasar Tani pekanan, tempat hiburan masyarakat. Sehingga masyarakat yang datang bukan hanya membaca namun juga dapat melakukan berbagai aktifitas literasi lain.
Berangkat dari Ide dari Desain Kreatif memberikan kita kesadaran bahwa SEMUA KITA BISA !
