MetropostNews.com | INDRAMAYU — Haul Buyut Banjar di Desa Bulak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, berlangsung meriah pada Minggu (18/10/2026).
Perayaan budaya tersebut dibuka dengan penampilan Tari Banjar yang dibawakan oleh 200 anak-anak asli Desa Bulak dari sanggar-sanggar tari di wilayah Kecamatan Jatibarang.
Kemegahan acara semakin terasa dengan parade 30 sound system dan 40 ogoh-ogoh menyusuri jalan desa hingga melewati depan jalan makam Buyut Banjar. Iring-iringan tersebut membentang hingga satu kilometer dan menarik perhatian masyarakat serta pengguna jalan.
Meski parade menyebabkan arus kendaraan di jalur Jatibarang–Karangampel bergerak padat merayap, situasi lalu lintas dilaporkan tetap aman dan terkendali.
Antusiasme juga datang dari para pengguna jalan yang melintas. Komeng, seorang pengendara minibus sedang melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Cirebon, mengaku menikmati suasana parade meski perjalanannya sempat tersendat.
“Saya dari Jakarta menuju Cirebon, mau pulang kampung. Walaupun tersendat macet, saya menikmatinya. Parade sound system ini menghibur dan terus dibudayakan sebagai warisan seni budaya,” ujarnya.
Tidak hanya pengendara mobil, sejumlah pengendara motor gede (moge) juga terlihat terjebak dalam kepadatan arus lalu lintas. Namun, situasi tersebut tidak menghalangi sebagian pengendara untuk menikmati kemeriahan parade. Beberapa di antaranya tampak menganggukkan kepala mengikuti irama dentuman sound system menggema di sepanjang jalur.
Perpaduan Tari Banjar, parade sound system, dan ogoh-ogoh menjadi daya tarik tersendiri dalam rangkaian Haul Buyut Banjar. Kehadiran ratusan penari muda sekaligus menunjukkan keterlibatan generasi penerus dalam menjaga keberlangsungan seni dan tradisi lokal.
Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi masyarakat Desa Bulak untuk merawat warisan budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan seni tradisional Indramayu kepada masyarakat luas.
Di tengah kemeriahan acara, kelancaran dan keselamatan pengguna jalan tetap menjadi perhatian penting agar perayaan budaya dapat berlangsung tertib tanpa mengabaikan aktivitas masyarakat lainnya.
(Tuti Ragil)

