Danil Rhamdani, Ketua Askab PSSI Kabupaten Tangerang (Dok/Reggy)
MetropostNews.com | TANGERANG – Piala Bupati Tangerang 2026 tengah menjadi sorotan. Pasalnya, dua pemain dari klub berbeda mengalami cedera serius hingga patah tulang saat menghadapi tim yang sama, yakni FIFA Farmel Academy.
Kedua pemain tersebut adalah Sandi dari BMS FC dan Muhammad Alfidzar, penjaga gawang Bintang Kelapa Dua FC.
Menanggapi sorotan tersebut, Ketua Askab PSSI Kabupaten Tangerang yang juga menjabat sebagai Camat Pagedangan, H. Danil Rhamdani, menegaskan bahwa panitia telah menjalankan seluruh prosedur penanganan sesuai standar
“Sudah dirawat di rumah sakit menggunakan BPJS, kedua orang tuanya sudah menerima, sudah kita tengok juga, kondisinya sudah membaik. Semua SOP kita penuhi. Musibah kan bukan keinginan kita. Medis dan mobil ambulans juga sudah kita siapkan, himbauan-himbauan juga sudah dilakukan,” ujar Danil.
Pernyataan itu langsung menuai bantahan dari Manajemen BMS FC.
Menurut pihak klub, BPJS yang digunakan pemain bukan ditanggung panitia maupun penyelenggara, melainkan merupakan kepesertaan yang dibayarkan oleh klub sendiri.
“Kepesertaan BPJS itu klub yang bayar, bukan panitia atau bupati,” tegas managemen BMS FC.
Tak hanya itu, BMS FC juga membantah pernyataan bahwa pihak Askab telah menemui keluarga korban.
“Tidak ada pihak Askab yang bertemu atau menjenguk orang tua pemain,” ujarnya.
Pernyataan soal kejadian yang disebut sudah berlangsung empat hari pun dipersoalkan. Sebab menurut BMS FC, insiden yang dialami Sandi terjadi pada 31 Mei 2026, atau baru berselang beberapa hari saat polemik ini mencuat.
Yang lebih disayangkan, kata pihak klub, surat resmi permohonan evaluasi yang hendak disampaikan ke Askab PSSI Kabupaten Tangerang justru belum dapat diterima karena kantor dalam keadaan tertutup.
“Kami datang untuk menyerahkan surat resmi, tetapi sampai pukul 12.00 WIB kantor PSSI Kabupaten Tangerang terkunci dan tidak ada orang,” ungkapnya.
Bagi BMS FC, persoalan ini bukan soal siapa yang membayar biaya pengobatan. Yang menjadi perhatian adalah keselamatan pemain dan kualitas penyelenggaraan turnamen.
Terlebih, dua pemain dari klub berbeda mengalami patah tulang saat menghadapi lawan yang sama. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai pengawasan pertandingan, ketegasan wasit, hingga langkah pencegahan agar insiden serupa tidak terulang.
Ketua KONI Kabupaten Tangerang, Eka Wibayu, menyatakan pihaknya akan menjadikan laporan tersebut sebagai bahan evaluasi.
“Terkait ketegasan wasit dan masukan dari orang tua atlet maupun klub, itu akan menjadi bahan evaluasi dan akan kami sampaikan kepada panitia pelaksana,” kata Eka.
Kini bola berada di tangan Askab PSSI Kabupaten Tangerang. Sebab yang ditunggu publik bukan perdebatan soal apakah berita ini “basi” atau tidak, melainkan jawaban atas satu pertanyaan penting:
Mengapa dalam satu turnamen, dua pemain dari klub berbeda bisa mengalami patah tulang saat menghadapi tim yang sama, dan apa langkah konkret penyelenggara agar kejadian serupa tidak terulang?
(Reggy)

