MetropostNews.com | Lebak – Pemerintah Kabupaten Lebak, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan malaria menyusul tingginya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir. Peringatan ini seiring meningkatnya kasus malaria pada 2025 yang mencapai 24 kasus, naik signifikan dibanding 2024 yang hanya mencatat 8 kasus.
Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Balitbangda Lebak, Paryono, mengatakan peningkatan kasus tersebut harus menjadi perhatian serius.
“Peningkatan ini patut diwaspadai, terutama karena curah hujan cukup tinggi sehingga memicu berkembangnya nyamuk Anopheles,” ujarnya di Rangkasbitung, Rabu (19/11/2025).
Ia menjelaskan wilayah pesisir pantai masih menjadi kawasan rawan penularan malaria akibat banyaknya laguna yang menjadi habitat nyamuk pembawa parasit tersebut. Namun sebagian besar kasus di Lebak tahun ini merupakan kasus impor.
“Dari 24 kasus, banyak yang merupakan kiriman dari luar daerah seperti Papua dan Asahan, Sumatera Utara,” kata Paryono.
Distribusi pasien malaria tersebar di berbagai fasilitas kesehatan.
Sebanyak 10 pasien ditangani di RS Malingping, dua di RS Kartini Rangkasbitung, dua di Puskesmas Pajagan, enam di Puskesmas Binuangeun, satu di RSUD Adjidarmo, dua di Puskesmas Cihara, dan satu di Puskesmas Bayah.
Meski terjadi peningkatan kasus, tidak ada laporan korban meninggal.
“Kasus malaria tahun ini semuanya tertangani dengan baik. Tidak ada pasien yang meninggal karena mereka cepat mendapatkan perawatan medis,” ucap Paryono.
Menurutnya, upaya penanganan malaria di Lebak selama ini sudah berjalan optimal. Bahkan Lebak telah memperoleh sertifikat eliminasi malaria dari Kementerian Kesehatan pada 2022.
“Kami terus bekerja keras agar status bebas malaria ini tetap terjaga,” ucapnya.
Paryono menambahkan masyarakat harus tetap waspada meski Lebak telah berstatus eliminasi.
“Pencegahan tidak boleh kendor. Warga harus menjaga kebersihan lingkungan dan memeriksa kesehatan jika merasakan gejala,” katanya.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Lebak, Firman Rahmatullah, juga menegaskan pentingnya pencegahan.
“Kami mengajak masyarakat melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan menjaga kebersihan lingkungan untuk memutus mata rantai penularan,” ujarnya.
Ia menjelaskan petugas kesehatan secara rutin melakukan penyemprotan larvasida di laguna pantai guna membunuh jentik nyamuk Anopheles.
Selain itu, mereka juga menebar ikan pemakan jentik di titik yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Firman menambahkan pembagian kelambu kepada masyarakat di daerah endemis juga terus dilakukan.
“Kelambu sangat efektif untuk menghindari gigitan nyamuk pada malam hari, terutama di wilayah yang dekat dengan laguna,” ucapnya.
Ia mengingatkan curah hujan tinggi sangat berpotensi meningkatkan penularan malaria.
“Jika warga mengalami demam tinggi dan menggigil, jangan tunda. Segera datang ke puskesmas atau rumah sakit,” ujar Firman.
Upaya peningkatan SDM kesehatan juga menjadi perhatian. Menurut Firman, pelatihan teknis bagi petugas laboratorium dan lapangan dilakukan setiap tahun.
“Kami ingin memastikan petugas mampu mendeteksi gejala malaria sejak dini agar penanganan bisa lebih cepat dan tepat,” katanya. (Apuh)

