METROPOST1.COM — Konflik antara Israel dan Palestina kembali memanas, Serangan udara dan artileri Israel di Gaza sejak Senin (10/5/2021) telah menewaskan 139 orang termasuk 39 anak-anak, serta melukai 1.000 lainnya, kata petugas kesehatan setempat.
Ketegangan meningkat di lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur dan di Masjid Al-Aqsa sejak bulan suci Ramadhan, ketika pasukan Israel menyerang warga Palestina.
Dalam Serangan terbarunya, Israel menelan korban sedikitnya 33 warga Palestina, termasuk 13 diantaranya anak-anak.
Menurut pejabat kesehatan di Gaza, pasukan militer Israel menembakkan roket ke rumah-rumah warga yang berada di pusat Kota Gaza pada tengah malam.
Menteri Hak Asasi Manusia Pakistan Shireen Mazari pada hari Sabtu (15/5/2021) mengatakan bahwa kekerasan saat ini di Timur Tengah adalah pembantaian, bukan konflik.
“Dengan hormat SG (sekretaris jenderal) yang terhormat ini bukan konflik tetapi pembantaian oleh Kekuatan Pendudukan & PBB perlu menegakkan tanggung jawabnya untuk melindungi rakyat Palestina dari terorisme negara Israel,” kata Shireen Mazari di Twitter, seperti dikutip dari Anadolu.
Sementara diketahui bahwa Amerika Serikat yang merupakan sekutu utama Israel memveto pernyataan DK PBB terkait masalah Israel dan Palestina, hal ini menyebabkan PBB kemudian tidak bisa bisa mengeluarkan pernyataan terkait isu tersebut.
Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi yang negaranya tengah memegang kepemimpinan DK PBB mengecam Amerika Serikat yang memveto pernyataan DK PBB.
“Sangat disayangkan, hanya karena ulah satu negara, Dewan Keamanan PBB tidak bisa mengeluarkan suara apa pun,” ujar Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dalam pertemuan virtual, Minggu, 16 Mei 2021.
Sementara Amerika Serikat yang merupakan sekutu Israel mengaku tengah bekerja di belakang layar dan menyebutkan bahwa pernyataan PBB bisa menggagalkan upaya mereka.
Pemerintah AS yang dipegang Joe Biden dalam pernyataan resminya mengatakan bahwa Israel berhak membela diri terhadap serangan roket yang diluncurkan Hamas.
Red



