Metropostnews.com | TANGERANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Banten menargetkan luas tambah tanam (LTT) mencapai 157 ribu hektare pada tahun 2026 sebagai upaya mendukung ketersediaan pangan nasional.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, di Lebak, Kamis, mengatakan pihaknya terus berupaya maksimal melalui kolaborasi lintas sektor guna mencapai target tersebut. Kerja sama dilakukan dengan petugas penyuluh lapang (PPL) Kementerian Pertanian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
“Kami bekerja keras dan berkolaborasi dengan berbagai pihak agar target LTT seluas 157 ribu hektare dapat tercapai dan berkontribusi terhadap ketersediaan pangan nasional,” ujarnya.
Menurut Rahmat, Kabupaten Lebak merupakan salah satu daerah lumbung pangan di Provinsi Banten, sehingga optimistis target tersebut dapat terealisasi. Hingga 14 April 2026, capaian LTT telah mencapai sekitar 44 ribu hektare atau 22 persen dari total target.
Ia menjelaskan, jika target tersebut tercapai, maka produksi gabah diperkirakan mencapai lebih dari 700 ribu ton atau setara dengan sekitar 440 ribu ton beras.
“Produksi tersebut dipastikan surplus, mengingat kebutuhan konsumsi beras masyarakat Lebak yang berjumlah sekitar 1,5 juta jiwa hanya mencapai 180 ribu ton per tahun,” katanya.
Dengan demikian, Kabupaten Lebak diproyeksikan mengalami surplus beras hingga 260 ribu ton yang dapat disalurkan untuk mendukung kebutuhan pangan di daerah lain.
Selain itu, pihaknya juga mendorong peningkatan indeks pertanaman (IP) hingga tiga kali musim tanam dalam setahun, dengan luas sawah baku sekitar 51 ribu hektare.
Dalam menghadapi potensi kemarau ekstrem atau fenomena El Nino, Dinas Pertanian telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif. Di antaranya melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan, pemasangan pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, serta pembangunan embung guna menjaga ketersediaan air.
Petani juga dianjurkan menggunakan benih varietas tahan kekeringan seperti Inpari 32, Inpari 42, dan Inpago 8 yang dinilai memiliki daya adaptasi lebih baik pada lahan dengan keterbatasan air.
“Dengan pengaturan waktu tanam dan teknik budidaya yang tepat, produksi padi di lahan tadah hujan tetap dapat terjaga meskipun menghadapi musim kemarau,” ujarnya.
Rahmat menambahkan, pihaknya juga memperkuat sistem peringatan dini (early warning system) serta mengoptimalkan pengelolaan air untuk mendukung percepatan tanam di berbagai sentra produksi.
“Kami telah melakukan langkah antisipatif mulai dari pemetaan hingga penguatan sistem peringatan dini dan optimalisasi irigasi,” katanya. (Ajat)
