Metropostnews.com/Sukabumi – Ada ratusan, bahkan mungkin ribuan catatan ihwal dunia hitam yang mengaitkannya dengan wilayah Pajampangan, seperti Surade, Jampang Kulon, Ciracap, Ciemas, hingga Warungkiara, Sagaranten dan Palabuhanratu.
Gak cuma sihir, teluh atau santet, hingga mantra, ajian pelet, pesugihan, jimat, primbon, rajah, dan ilmu tenaga dalam, serta segudang ilmu kesaktian, selalu identik dengan wilayah Pajampangan.
Cerita dari mulut ke mulut ini sudah berusia ratusan tahun. Entah siapa memulai, yang jelas, wilayah Jampang identik dengan dunia hitam, sudah hal lumrah dibicarakan warga di luar Sukabumi.
Walaupun kini wilayah Pajampangan semakin maju karena memiliki destinasi wisata dunia sekelas Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, tetap saja cap negatif kera[ dialamatkan orang dari luar Jampang. Sulitnya menghapus persepsi negatif ini, terutama karena aksi kekerasan terhadap orang yang dicurigai sebagai dukun santet terus terjadi.
Terakhir, pada Maret 2018 lalu, seorang wanita bernama Atikah (40), warga Kampung Babakankubang RT 04/02 , Desa Mekarsakti, Kecamatan Ciemas, dianiaya di rumahnya karena dituduh sebagai dukun santet. Akibatnya, ia harus menjalani perawatan tim medis RSUD Jampang Kulon.
Masih banyak lagi kejadian-kejadian penyiksaan terhadap orang yang diduga mempunyai ilmu santet. Padahal kini sudah zaman modern, di mana orang semakin berpikir rasional.
Rasanya cukup alasan mengapa wilayah selatan Kabupaten Sukabumi identik dengan cap seram dunia hitam ya, Gaess.

Kisah “Tukang Teluh” Mak Mitah tak mempan dibakar
Alkisah, seorang wanita diduga dukun santet, Mak Mitah, diburu warga satu desa dan berhasil lolos, padahal semua saksi mata melihatnya masuk ke dalam rumah. Setelah diobrak-abrik seisi rumah, Mak Mitah luput dari kejaran warga. Karena kesal, wargapun membakar rumahnya.
Seorang saksi mata mengaku baru saja berpapasan dengan Mak Mitah sedang berlari ketakuan di tengah sawah. Serentak semua warga mengejarnya dengan mengendarai sepeda motor hingga Tanjakan Godebag, perbatasan Sagarateun dengan Jampang Kulon.
Wargapun berhasil membekuk si emak di sebuah perkebunan karet pada sekira jam 15.00 WIB. Mak Mitah yang saat itu mengenakan sarung batik dan baju kebaya, bibirnya nampak memerah karena tengah mengunyah sirih. Giginya hitam, kuku tangan panjang. Tak ayal, warga yang marah segera mengikat kaki Mak Mitah dan ditarik mengunakan sepeda motor sambil diarak keliling desa.
Saktinya, konon Mak MItah tidak nampak terluka sedikit pun. Hari menjelang Maghrib, sehingga beberapa warga yang kadung kesal berteriak, “Bakar!” Si emak pun akhirnya disiram dengan bensin masih dalam keadaan terikat. “Burrrr“, api pun berkobar.
Warga pun seperti dibuat bingung dan ciut nyali manakala menyaksikan tubuh Mak Mitah nampak masih utuh. Jangankan kulit tubuhnya, bahkan bajunya sekalipun, tidak tersentuh api. Ia tertawa, sehingga membuat ciut nyali warga.
“Awas ku aing diteluh sia. Rasakeun mun aing bisa kabur, da moal aya nu bisa modaran aing maneh kabeh ge,” teriak Mak Mitah sambi terkekeh.
Warga yang tadinya mulai ciut nyali, akhirnya merasa penasaran. Seorang warga menyampaikan ide kepada tetua kampung, “Pukul pakai daun keladi.” Tanpa membiarkan kaki si emak menginjak tanah, tubuhnya ditarik menggunakan tambang menuju Jembatan Cikaso, Kecamatan Ciracap. Tiba di tengah jembatan, tubuh wanita tua itu ditutupi daun keladi, seraya dipukul-pukul dengan daun keladi.
Mak Mitah mejerit dan meminta ampun. Namun, warga yang sudah kadung marah memutuskan memenggal kepalanya hingga jatuh ke Sungai Cikaso dan terawa arus.
Konon, selama 40 malam suasana kampung tempat tinggal Mak Mitah mirip kuburan. Sebagian warga mengaku ada yang menyaksikan tubuh berjalan tanpa kepala sambil berkata, “Mana hulu aing? Kadieukeun hulu aing.”
Nah gaes, dari cerita urban legend tersebut masih yakin gak kalau Pajampangan daerah “mistis” terpopuler di tanah sunda. (MP)

