METROPOST1.COM — Selain perseteruan The Beatles dan The Rolling Stones, perseteruan band paling legendaris adalah antara Oasis dan Blur. Kisah tentang dua band asal Britania ini sempat melahirkan berbagai tafsir penggemar musik, termasuk ketika sebuah pertandingan amal menemukan ikon kedua band tersebut, Liam Gallagher dan Damon Albarn.
Setelah menjalani perseteruan panjang berbulan-bulan, akhirnya Liam Gallagher dan Damon Albarn punya kesempatan untuk berada di satu panggung. Kali ini panggung tersebut bukan dalam arti tempat untuk konser musik. Panggung itu adalah lapangan sepakbola Mile End di London timur. Pertemuan keduanya dirancang untuk sebuah kompetsisi amal Music Indutry Soccer Six 1996, dan melibatkan banyak grup band, bukan hanya soal Oasis-Blur.
Tapi tetap, di antara semua pertandingan laga amal itu, pertemuan Liam-Damon tetaplah yang paling menarik untuk disimak.
Sebuah video pendek yang diunggah oleh Blur_Based menggambarkan bagaimana pertandingan tersebut berlangsung. Liam Gallagher, yang mengidolakan Manchester City, memakai kostum kebesaran Manchester City dalam pertandingan tersebut, biru langit.
Kisah tentang kedekatan Liam dan Manchester City memang sudah bukan rahasia lagi. Liam, bersama dengan saudaranya, Noel Gallagher bahkan bersedia duduk sebagai duta Manchester City sejak awal berdirinya Oasis.
Sementara Damon Albarn, memakai kostum gelap. Albarn sedikit berbeda dengan Liam. Ia tidak berkesempatan memakai warna kostum yang sesuai dengan klub kesayangannya, Chelsea. Meski demikian, ia telah membawa ruh Chelsea dalam topi yang ia kenakan saat pertandingan tersebut.
Sekadar catatan, meski tidak memiliki keterlibatan dengan sepakbola sampai sejauh yang dialami Liam, namun ia juga tidak kalah. Albarn memiliki tiket terusan (satu musim penuh) untuk menyaksikan Chelsea, klub yang ia idolakan.
Liam Gallagher yang tampil dengan topi ember dan celana olahraga panjang nampak menikmati pertandingan itu walau dengan kemampuan olahbola yang berada jauh di bawah rata-rata pemain top Liga Inggris. Sementara Damon Albarn, tampil menggunakan celana pendek dan topi biru. Tampilan ini sudah cukup untuk memberinya kesan sebagai super star.
Sepanjang pertandingan, nama Liam dan Albarn tak henti-hentinya diteriakkan. Bahkan tak peduli seberapa konyolnya mereka dalam membawa bola. Nama mereka berdua tetap yang paling nyaring di lapangan. Laga tersebut tak mampu merampas DNA seorang bintang dalam diri mereka.
Selain histeris dengan teriakan, beberapa penonton juga memaksa masuk lapangan untuk mendekat kepada idola mereka yang ada di lapangan. Beruntung, petugas keamanan cukup sigap dalam mengemankan mereka.
Dari pertandingan yang (mungkin) tidak penting untuk diingat dalam sejarah sepakbola ini, ada satu hal yang akan dikenang. Di tengah persaingan Oasis-Blur yang dianggap semakin memanas, penonton di tribun yang menyaksikan laga amal tersebut harus, entah menanggung kecewa atau justru lega saat menyaksikan Liam dan Albarn muncul ke lapangan pertandingan secara bersamaan dengan bergandengan tangan yang kemudian dilanjutkan dengan adegan Liam menunjukkan lelucon dengan menarik celana pendek Albarn ke bawah.
Sekilas, orang boleh menganggap peristiwa ini sebagai hal yang biasa. Namun tidak bagi yang menyimak perkembangan musik di dekade 1990-an. Kejadian ini bisa dibilang langka, dan cenderung aneh karena kedua kubu, Liam dengan Oasisnya dan Albarn dengan Blurnya, memiliki riwayat permusuhan yang sengit beberapa bulan sebelum laga amal tersebut berlangsung.
Kisah awal perseteruan Oasis dan Blur dimulai ketika Liam Gallagher, vokalis Oasis mengundang Damon Albarn, vokalis Blur untuk datang dalam perayaan lagu Oasis “some might say” yang berhasil menduduki peringkat pertama di daftar tangga lagu. Datang dengan maksud bisa menyampaikan ucapan selamat kepada kawan baiknya itu, Damon Albarn justru merasa diperlakukan tidak hormat oleh Liam.
Sebelumnya, Oasis dan Blur adalah dua band yang saling menghormati. Ketika penghargaan NME award 1995, Oasis yang mendapatkan penghargaan lebih banyak daripada Blur (Oasis 5 sementara Blur 3) menyampaikan sebuah ungkapan kerendahan hati “aku tidak merasa bahwa kami seharusnya memperoleh lebih banyak (penghargaan) daripadai Blur. Mereka adalah band top,” kata Liam waktu itu.
Tapi rasa persahabatan itu berubah selang beberapa bulan setelahnya. Albarn mengenang bagaimana Liam berteriak tepat di depan wajahnya “Liam menghampiriku berteriak tepat di depan wajahku ‘nomor satu’.” Damon Albarn yang menafsirkan teriakan tersebut sebagai sebuah tantangan langsung saja mengiyakan. “Oke, jika ini kompetisi, lihat saja nanti” tekad Abarn dalam hati saat itu. Jiwa kompetitifnya tergoda untuk selalu menganggap teriakan itu sebagai genderang perang.
Genderang perang itu akhirnnya benar-benar di mulai saat memasuki bulan Agustus 1995. Oasis, berencana meluncurkan lagu “Roll With It” pada bulan tersebut. Belum sempat liris, rencana itu “dihadang” oleh petinggi Food, label musik yang menaungi Blur. Food kemudian memberi tawaran kepada Albarn untuk meluncurkan lagunya bersamaan dengan rencana Food meluncurkan lagu Blur, “Country House” dari album The Great Escape.
Ide peluncuran lagu secara bersamaan ini semacam tembakan tanda dimulainya balapan. Tinggal kita lihat, siapa yang paling cepat mencapai garis penjualan paling maksimal.
Ide ini kemudian sampai juga di telinga khalayak. Media kemudian menikmati penggorengan kejadian ini dengan secara berlebihan menyebutnya sebagai perseteruan. Perseteruan ini dipandang setara dengan rivalitas The Beatles dan The Rolling Stones.
“British Heavyweight Championship”, judul sensasional yang menggambarkan betapa kuatnya rivalitas Oasis-Blur. Judul ini diberikan oleh majalah NME di atas gambar wajah Liam dan Albarn yang mereka pasang pada halaman muka majalah mereka. Sebuah ide yang terilhami dari pertarungan Muhammad Ali. Disamakan dengan tinju? Memang seperti itulah ide Steve Sutherland, editor majalah NME waktu itu.
Ketika Liam mengatakan bahwa ia ingin melihat Albarn dan Alex James meninggal karena AIDS, persaingan antar ke dua band itupun semakin mendidih. Meski kemudian Liam meminta maaf dan mencabut ucapan wawancaranya dengan The observer tersebut.
Dampak persaingan Blur-Oasis juga dibawa ke ranah sosial-politik. Persaingan ke dua band itu biasa dibaca sebagai persaingan antara Inggris utara dan selatan. Atau, Blur sebagai perwakilan kelompok menengah ke atas sementara Oasis sebagai representasi dari kalangan menengah ke bawah.
Pada hari peluncuran lagu mereka, toko-toko kaset seketika berubah menjadi arena pertempuran. Di sana terlihat orang-orang berkumpul untuk menjadi penentu, lagu band mana yang paling laku, Blur atau Oasis?. Dalam berbagai prediksi, Oasis dinilai bakal memenangkan jumlah penjualan karena memang terlihat demikian pada awalnya. Namun hasil akhir berbeda. Blur yang berhasil menjual sebanyak 274.000 kopi lagu berhasil mengalahkan Oasis yang menyentuh angka 216.000 kopi lagu.
Kekalahan dalam jumlah penjualan ini tak bisa diterima oleh Liam. Kebencianya pada Blur semakin memuncak karena baginya, “Roll With It” jauh lebih baik daripada “Country House.” Namun rasa kecewa Liam segera terobati tatkala Oasis berhasil menjual Morning Glory dengan total penjualan empat juta kopi. Pencapaian itu kian sempurna saat Oasis menghabiskan konser di Knebworth dengan disaksikan seperempat juta manusia. Hal yang tidak pernah dicapai oleh pesaing mereka, Blur.
Persaingan panjang ini lah yang membuat pertandingan amal yang dilangsungkan pada Mei 1996 itu menjadi menarik. Dan dampak dari semua itu, terkumpulnya uang sebesar 150.000 pound yang akan disumbangkan kepada Terapi Musik Nordoff-Robbins.
Seiring waktu, suhu rivalitas mereka mulai menurun. Penyebabnya macam-macam: dari melemahnya pengaruh Britpop hingga konflik Liam dan Noel (kakaknya) yang berujung pada bubarnya Oasis. Keadaan itu membikin pintu rekonsiliasi perlahan terbuka. Pada 2013, Noel dan Albarn tampil satu panggung membawakan nomor klasik milik Blur, “Tender,” dalam rangka kegiatan amal. Dua tahun setelahnya, mereka lagi-lagi bermain bersama kala menghadiri perayaan ulang tahun ke-60 Paul Simonon, bassist grup punk-rock veteran, The Clash. Bahkan, pada 2017, Albarn mengajak Noel untuk mengisi vokal di track “We’ve Got the Power” yang termaktub dalam album Humanz. Liam, yang melihat kenyataan tersebut, makin beringas merisak Noel. Usai Oasis bubar, hubungan kakak-adik ini memang berada pada titik nadir. Mereka sama-sama membenci (tapi sebetulnya saling rindu) hingga menegaskan tak akan pernah bermain satu band lagi. Akurnya sang kakak dengan Albarn hanya menambah kadar ketidaksukaan Liam.
Toh, Noel tetap cuek bebek. “Denger, ya, enggak ada yang peduli sama apa yang diomongin Liam,” ujar Noel suatu waktu, menanggapi kelakuan liar adiknya. Masa rivalitas Blur-Oasis sudah lewat sejak lama. Pertarungan kedua band ini dinyatakan selesai semenjak Oasis gulung tikar dan Noel memilih “berdamai” dengan Albarn. Serangan-serangan verbal yang dikeluarkan Liam tak lebih dari guyonan semata, alih-alih disebut sebagai upaya menghidupkan lagi garis pertempuran seperti halnya yang tergambar jelas dua dekade silam.
(Dari Berbagai Sumber)




