Metropostnews.com – John Paul Ivan yg biasa disapa juga JPI adalah mantan gitaris dan pendiri grup musik Boomerang yang keluar dari band pada tahun 2005.
Bersama Boomerang telah merilis album-album dibawah naungan Logis Music, sebagai berikutĀ : Boomerang (1994), Kontaminasi Otak 1995, Disharmoni (1996), Segitiga (1998), Hard & Heavy dan Best Ballads (1999), X’travaganza (2000), dan 2 album bersama Sony Music, Terapi Visi (2003) dan Urbanoustic (2004).
Sekarang beliau telah menjadi salah satu gitaris rock yang terpandang di Indonesia. Ciri khasnya adalah rambut gondrong, liar dipanggung, dan menenteng gitar Les Paul modelnya.
JPI terbilang gitaris yang mempunyai karakter dan ciri khas sendiri dalam bermain gitar dan juga mengolah komposisi aransemen lagu.
Kehadirannya di Boomerang memang vital. Selain permainan musiknya yang cukup berpengaruh, gaya manejemennya cukup menolong band secara keseluruhan.
Beberapa waktu lalu Metropostnews.com sempat berkomunikasi dengan JPI yang sekarang bergabung dengan band Take Over bersama istrinya Windy Saraswati sebagai vokalis band.
JPI bersuara soal nasib para musisi Indonesia yang masih sulit untuk mendapatkan penghasilan karena masa transisi pandemi covid-19.
Hal itu menurutnya karena industri musik menjadi salah satu sektor yang paling terdampak karena virus covid-19 kemarin.
Tak dapat diprediksi lebih jauh, namun JPI bersyukur sebagai musisi yang masih bisa mendapatkan penghasilan dari pekerjaan dan profesinya dalam bermusik.
John Paul Ivan menyebutkan kita masih menunggu langkah tegas dari lembaga pemerintah soal industri musik di Tanah Air.
“Banyak dibutuhkan perubahan sistim dalam sebuah perijinan konser musik agar showbiz hiburan musik di Indonesia kedepannya bisa lebih mudah dan tidak dibebani dengan bayar ini itu yang cenderung jadi membebani dan mempersulit.
Kita sebagai pelaku musik ingin ada langkah tegas dan koordinatif antara lembaga-lembaga pemerintah yang terkait soal showbiz musik ini,” ungkap JPI.
John Paul Ivan Memaparkan apa saja Problematika musisi saat ini :
Problem utama di negara ini dalam urusan showbiz dan industri musik adalah:
1. Pemerintah masih memandang rendah industri musik, padahal kebalikannya, banyak dimakan ama oknum yang tau akan peredaran ekonomi besar di industri musik, ya karena lemah nya sistim kelola dan payung hukum.
2. Rendahnya budaya beli tiket nonton konser di masyarakat bagi penikmat musik. Maunya gratisan, ini yang bikin gak bisa stabilnya showbiz musik, untuk bisa berjalan baik disini, semua event musik masih bergantung ama adanya sponsor atau bos yang kasih duit. Jadi akhirnya sponsor yang mengendalikan siapa band yang akan tampil terus dimana-mana, yang gak laku ama sponsor ya siap2 gigit jari aja.
3. Banyaknya pungli perijinan di showbiz event musik, sekarang dipikir logika aja, bisa atau tidak terlaksananya sebuah event musik mau kecil atau besar itu karena ada nya tandatangan sakti bernilai fantastis untuk pihak terkait perijinan dan yg skrng lagi on the top adalah Satgas ??????? Ini sistim mafia pungli yang sudah sakit mengakar, belum ntar jatah preman, ormas.
Para musisi sangat menunggu langkah tegas, terlebih dikarenakan kurangnya koordinasi dari pemangku kepentingan soal perizinan untuk melakukan konser.
Saat ditanyakan prihal eksistensi musisi generasi 90an untuk bisa bertahan terus di industri ini, JPI mengatakan “ya semua tergantung ama sikon eksistensi mereka sendiri dan cara menghadapi tantangan – tantangan perubahan yang muncul di depan mata, bagaimana harus mengadjustment dengan gesekan dan serbuan generasi baru yang lebih memberikan sesuatu suguhan baruā¦.
Ya balik ke kita nya (musisinya) bagaimana kita menjawab dan berbuat sesuatu yg nyata dan ada, ya salah satunya adalah KARYA NYATA, karya musik yang menyatakan akan eksistensi kita masih ada, selebihnya adalah bagaimana kita mensosialisasikan karya kita ke masyarakat, caranya ya ada di tiap masing – masing pelaku musik, semua punya jalan dan caranya sendiri – sendiri” tutupnya. (ANDRIAN)
