Metropostnews.com/Pandeglang – Oleh: Ahmad Yani, M.Sos
Ketua Generasi Muda Mathla’ul Anwar (GEMA-MA) Provinsi Jawa Barat
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Kalimat sakral dalam alinea pertama UUD 1945 ini bukan hanya rangkaian kata, melainkan teriakan hati yang lahir dari penderitaan panjang penjajahan. 17 Agustus 1945 menjadi hari ketika bangsa Indonesia berdiri di panggung sejarah dunia: dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka, dari bangsa yang diinjak-injak menjadi bangsa yang bermartabat.
Kini, 80 tahun sudah kemerdekaan itu kita nikmati. Bagi manusia, usia 80 tahun adalah usia matang penuh kebijaksanaan. Begitu pula bagi bangsa: ini adalah fase evaluasi, koreksi, dan sekaligus momentum untuk melompat lebih jauh. Pertanyaannya, apakah 80 tahun merdeka sudah benar-benar menghadirkan kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya bagi seluruh rakyat?
Capaian yang Membanggakan
Di tengah tantangan global, bangsa ini tetap tegak. Kita patut bersyukur bahwa Indonesia hari ini bukan lagi bangsa yang dipandang sebelah mata.
• Secara politik, demokrasi kita relatif stabil. Kita tetap berdiri sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan Amerika Serikat.
• Secara ekonomi, Indonesia menjadi kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, bahkan kini masuk 16 besar ekonomi dunia dan dipercaya menjadi anggota G20.
• Secara infrastruktur, pembangunan dari pusat hingga pelosok terus berjalan: jalan, jembatan, bandara, dan akses internet semakin meluas.
•Secara digital, Indonesia tumbuh menjadi salah satu raksasa internet dengan lebih dari 200 juta pengguna aktif. Ekonomi digital diprediksi bisa menjadi mesin utama pertumbuhan masa depan.
Anak-anak muda Indonesia semakin unjuk gigi. Dari prestasi olahraga, seni, teknologi, hingga wirausaha, banyak karya generasi milenial dan gen-Z yang membanggakan. Inilah energi baru bangsa.
Seperti kata Bung Hatta, “Indonesia merdeka bukanlah tujuan akhir, melainkan jembatan emas untuk menuju masyarakat yang adil dan makmur.”
Maka, tugas kita adalah memastikan jembatan emas ini benar-benar mengantarkan rakyat pada kesejahteraan.
Tantangan yang Tidak Bisa Diabaikan
Namun di balik pencapaian itu, masih banyak pekerjaan rumah:
• Ketimpangan Sosial-Ekonomi
Di satu sisi, ada kota-kota dengan gedung pencakar langit, pusat belanja megah, dan gaya hidup modern. Di sisi lain, masih ada desa-desa yang kesulitan air bersih, anak-anak yang harus berjalan berkilo-kilometer untuk sekolah, dan keluarga yang berjuang sekadar untuk makan hari ini.
• Krisis Pendidikan dan SDM
Kita menghadapi bonus demografi. Jumlah anak muda yang besar bisa menjadi kekuatan, tapi juga bisa menjadi bumerang. Jika pendidikan tidak merata, jika literasi rendah, maka bonus demografi berubah menjadi “bencana demografi.”
• Polarisasi Politik dan Identitas
Setiap menjelang pemilu, kita sering terjebak dalam pertikaian identitas, politik kebencian, dan saling serang. Padahal semangat kemerdekaan adalah persatuan. Jangan sampai energi bangsa habis hanya untuk bertengkar di media sosial.
• Krisis Lingkungan dan Iklim
Banjir, polusi udara, kebakaran hutan, dan rusaknya ekosistem laut adalah peringatan nyata. Kita harus sadar, bumi yang kita tempati hari ini adalah titipan untuk anak cucu.
• Ancaman Kedaulatan Digital
Era globalisasi membuat data, informasi, dan teknologi menjadi “lahan baru” perebutan kekuasaan. Generasi muda tidak boleh hanya jadi konsumen TikTok, YouTube, atau game online. Kita harus jadi kreator, inovator, dan pemilik teknologi.
Sebagai Ketua Generasi Muda Mathla’ul Anwar (GEMA-MA) Jawa Barat, saya ingin menegaskan: masa depan bangsa ini ada di tangan pemuda.
• Dalam pendidikan, pemuda harus jadi pionir gerakan literasi, penguasaan teknologi, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
• Dalam ekonomi, pemuda jangan hanya mencari kerja, tetapi harus berani membuka lapangan kerja, berwirausaha, dan berinovasi.
• Dalam sosial-politik, pemuda harus jadi perekat, bukan pemecah. Kita harus menolak politik adu domba dan membawa demokrasi ke arah yang sehat.
• Dalam lingkungan, pemuda harus menjadi garda depan dalam gerakan hijau, menjaga bumi, menanam pohon, mengurangi sampah plastik, dan melawan kerusakan alam.
• Dalam dunia digital, pemuda harus berani menciptakan aplikasi, startup, dan teknologi yang mendunia.
Sebagaimana pesan Ki Hajar Dewantara sangat relevan: “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.” Maka, tugas kita sebagai pemuda bukan hanya merawat mimpi, tetapi mewujudkannya dalam kerja nyata.
Harapan dan Jalan ke Depan
80 tahun merdeka bukan hanya momentum perayaan, tapi juga refleksi: sudah sejauh mana kita mengisi kemerdekaan ini?
Harapan saya untuk bangsa ini:
• Pendidikan yang adil dan merata, sehingga anak di Papua punya kesempatan yang sama dengan anak di Jawa.
• Ekonomi yang berkeadilan, di mana kekayaan negeri tidak hanya dinikmati segelintir orang, tapi dirasakan seluruh rakyat.
• Demokrasi yang bermartabat, di mana pemilu jadi ajang adu gagasan, bukan adu fitnah.
• Persatuan dalam keberagaman, di mana perbedaan menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.
Kemerdekaan adalah amanah Allah SWT yang diperjuangkan dengan darah dan air mata para pahlawan. Tugas kita bukan hanya menjaga, tetapi mengisinya dengan amal terbaik, karya nyata, dan persatuan yang kokoh.
Dirgahayu ke-80 Republik Indonesia. Mari jadikan momentum ini sebagai kebangkitan baru, agar Indonesia benar-benar menjadi bangsa yang berdikari di atas kaki sendiri, berdaulat secara politik, berdiri tegak secara ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya.
Dan jangan pernah lupa pesan Bung Karno yang menggema hingga kini, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.”
Karena sejarah memberi kita pelajaran, persatuan memberi kita kekuatan, dan pemuda memberi kita masa depan.
