Metropostnews.com/Cirebon – Produksi penggilingan padi terhitung mulai Bulan Agustus terus mengalami penurunan. Hal tersebut disampaikan H Kanan, pengusaha penggilingan padi asal Kabupaten Cirebon, Senin (27/11/23) pagi.
“Biasanya kami memproduksi hingga 200 ton tapi kini dalam sebulan paling hanya 50-60 ton saja,” kata H Kanan.
Kondisi tersebut terjadi, lanjut H Kanan, dipengaruhi beberapa kendala, salah satunya yaitu kesulitan dalam mendapatkan padi dikarenakan produksi padi yang dianggap kurang maksimal.
“Kekurangmaksimalan dalam hasil panen terjadi karena beberapa faktor, pertama harga pupuk mahal, kalaupun ada pupuk.susah didapat,” sebutnya.
Faktor lainnya, tambah H Kanan, terjadinya serangan hama tikus yang menurutnya susah diberantas.
“Sudah kami pasang obat untuk membasmi tikus tapi terlalu keras, akhirnya sistem gropyokan dengan menggunakan hewan anjing terkena.imbasnya dari pemasangan obat tersebut, anjingnya pada mati karena makan tikus. Sudah bisa ditebak, tikus banyak lagi dan menyerang padi,” ungkapnya.
Sementara disinggung harga padi, menurutnya saat ini tidak.masuk.akal, ia pun menyebutkan harga padi di Karawang perkilo menyentuh angka Rp 77 ribu hingga 78 ribu.
“Itu harga kering panen, kalau sampai bentuk beras jadi Rp 14 ribu dan harga segitu malah ga laku dan kita rugi terus,” ucapnya.
Ketika dijual ke pasar malah, lanjutnya, harga pasar dihantam sama Bulog. Yang terjadi harga beras bisa ditekan, sementara harga gabah malah tidak bisa ditekan.
“Harapan kami kepada pemerintah agar dapat memenuhi kebutuhan petani. Diantaranya, obat-obatan tidak mahal dan ketersediaan pupuk. Mudah-mudahan pemerintah peduli . Sehingga apabila terpenuhi, produksi panen banyak pabrik penggilingan padi ramai dan seimbang dengan pengeluaran berasnya,” harapnya. (Cepi)

