METROPOSTNews.com | Majalengka — Guar Bumi adalah adat yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya seperti Munjungan. Bedanya hanya terletak di hari dan tempat pelaksanaanya saja. Dimana munjungan biasa digelar di Tempat Pemakaman leluhur (Kebuyutan) atau Alun Bale Desa.
Guar Bumi ( Sedekah Bumi ) merupakan adat kebudayaan turun temurun nenek moyang. Digelar giat Guar Bumi adalah sebagai puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas keberkahan hasil panen yang melimpahkan hasil yang sangat di harapkan bagi masyarakat.

Identik Gelar Bumi ( Sedekah Bumi ) diwarnai pagelaran Seni Budaya Wayang Kulit dan diiringi Sinden yang melantunkan lagu – lagu spiritual disesuaikan dengan lakon Wayang Kulit yang dibawakan oleh Ki Dalang.
Seperti kegiatan Guar Bumi di Pemerintah Desa Mindi Kec Leuwimunding Kab. Majalengka, Rabu ( 22/12/2021 ) di halaman Bale Desa.
Iringan gamelan Wayang Kulit Purwa Sekar Wening dengan Ki Dalang Nurwenda dari Desa Bulak Kec. Arjawinangun Kab. Cirebon turut memeriahkan adat istiadat masyarakat Jawa Barat Guar Bumi. Kutip dari sejarah Pagelaran Wayang Kulit bersifat Sakral dalam memeriahkan kegiatan Guar Bumi ( Sedekah Bumi ) yang merupakan warisan leluhur.
Di tempat kegiatan, Kepala Desa Mindi Kec. Leuwimunding Kab. Majalengka merasa bersyukur kegiatan Guar Bumi berjalan sesuai harapan masyarakatnya.
” Dengan hasil musyawarah pemerintah desa dan masyarakat, alhamdulilah setiap tahun Guar Bumi bisa terlaksana, karena diyakini Guar Bumi ini adalah adat istiadat budaya masyarakat yang patut dipertahankan keberadaannya” Katanya.
Oleh sebab itu lanjut Kepala Desa, Suhanda, “pemerintah desa terus bekerja sama dengan masyarakat agar terus kita pertahankan nilai budaya bangsa jangan sampai punah. Pagelaran Wayang kulit ini pun sebagai sejarah para Wali Songo dan masyarakat pun sangat antusias dalam kegiatan Guar Bumi ini” pungkasnya. ( Sunarto Aryodinoto )



