MetropostNews.com | INDRAMAYU — Suhu di kawasan Kilang Pertamina RU VI Balongan mendadak panas setelah ratusan pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Pertamina Bersatu Balongan (SP-PBB) turun gunung menggelar aksi protes, Sabtu (19/9/2026).
Aksi ini dipicu oleh kecurigaan atas wacana penggabungan atau merger PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) ke PT Elnusa Tbk yang dinilai jalan senyap tanpa transparansi. Sekjen SP-PBB, Dendy Haryadi, dengan tegas memperingatkan manajemen agar tidak bermain-main dengan masa depan aset strategis negara yang dibangun dengan keringat bangsa.
Bukan tanpa alasan pekerja murka, sebab PDSI bukan sekadar perusahaan pengeboran biasa yang bisa diobral begitu saja. Di balik nama besarnya, PDSI memiliki puluhan unit rig, lebih dari 110 jenis layanan pengeboran maut, hingga fasilitas pelatihan kelas wahid di Mundu, Indramayu, yang menjadi benteng kedaulatan energi nasional. Hingga detik ini, manajemen Elnusa dinilai masih kucing-kucingan karena menutup rapat bentuk transaksi, valuasi harga, hingga nasib ribuan pekerja di masa depan.
Lewat 5 tuntutan harga mati, SP-PBB mendesak agar rencana ugal-ugalan ini dihentikan sementara dan dibuka seterang-terangnya kepada publik serta federasi pekerja. Para pekerja menegaskan tidak akan tinggal diam jika kapabilitas National Drilling Champion kebanggaan Indonesia ini justru digerogoti oleh kepentingan korporasi sesaat.
Pertamina adalah harga mati, dan Indramayu siap menjadi garis pertahanan pertama untuk mengawal aset bangsa dari keputusan yang merugikan. (Tuti Ragil)

