MetropostsNews.com/Indramayu – Warga mencatat sekitar 90 persen wilayah desanya terendam banjir akibat pasangnya air laut tersebut. Kondisi ini tentunya berdampak pada aktivitas masyarakat di desa setempat.
Bertahun-tahun mereka dipaksa untuk berdamai dengan kepungan banjir rob yang pasang surut setiap hari. Jalanan yang becek oleh air laut sudah menjadi pemandangan biasa warga sehari-hari.
Jika air pasang sedang tinggi, pemukiman di sana langsung berubah seperti kolam besar dengan ketinggian air bisa mencapai sekitar paha orang dewasa.
Warga yang punya finansial lebih mayoritas meninggikan rumah mereka hingga 1 meter bahkan lebih.
Sedangkan warga yang ekonominya pas-pasan hanya bisa membuat bendungan dari papan maupun kain. Mereka pun sudah pasrah setiap kali air datang bertamu masuk ke dalam rumah.
“Banjir rob terjadi setiap hari, sudah puluhan tahun,” ujar seorang warga Desa Eretan Wetan, Supriyanto, Selasa (17/6/2025).
Warga Desa Eretan Wetan, disampaikan Supriyanto, sebenarnya tidak pasrah begitu saja dengan kondisi tersebut. Beragam upaya sudah dilakukan. Termasuk berinisiatif mengerahkan kekuatan dari netizen.
Video-video yang memperlihatkan kondisi desa mereka terendam banjir rob pun tidak sedikit yang viral di media sosial.
“Tapi pemda dan DPRD tidak juga memberikan respons,” ucap Supriyanto.
Supriyanto sendiri tergabung dalam Pemuda Peduli Lingkungan Eretan Wetan.
Lewat forumnya itu, ia juga berusaha untuk bisa melakukan audiensi dengan pemerintah terkait kondisi banjir rob di desanya.
“Sudah mengirim surat permohonan audiensi. Namun, permohonan tersebut belum mendapat respons,” ujar dia.
Warga Desa Eretan Wetan lainnya, Ukasyah menceritakan, banjir rob bisa merendam pemukiman warga selama lima sampai enam jam setiap harinya.
Kondisi ini sangat mengganggu aktivitas warga.
“Kondisi rob kudah terjadi hampir 20 tahun.
Aktivitas warga terganggu karena jalan-jalan yang tergenang air setiap hari,” ujar dia.
Tidak hanya orang dewasa yang terkena dampak, anak sekolah pun juga ikut merasakan.
Mereka harus menerjang banjir untuk sampai ke sekolah dengan melepas sepatu agar tidak basah.
Bagi anak yang masih kecil, biasanya digendong oleh orang tuanya.
Setelah sampai di sekolah, kegiatan belajar mengajar anak-anak juga kadang terganggu. Pasalnya, sekolah mereka juga terendam hingga masuk ke dalam ruang kelas.
“Kesehatan warga juga rentan terganggu karena kondisi lingkungan yang lembab dan basah setiap hari. Warga jadi mudah sakit,” ujar dia.
Ukasyah menyebutkan, warga Desa Eretan Wetan secara keseluruhan kurang lebih berjumlah 11 ribu jiwa.
Dengan jumlah rumah mencapai kurang lebih 3.724 unit.Dari jumlah itu, sekitar 90 persennya terdampak bencana banjir rob.
“Kami berharap pemerintah segera membangun tanggul di pinggir sungai. Keberadaan tanggul itu diyakini bisa mencegah air masuk ke permukiman warga,” ujar dia.(Arrie T)

