MetropostNews.com | Indramayu – Aksi protes terkait dugaan kecurangan Pemilihan Kuwu (Pilwu) 2025 kembali memanas. Ratusan warga dari 9 desa mendatangi Pendopo Indramayu, Senin (1/12/2025).
Massa menuntut panitia membuka nilai asli pada seleksi tambahan yang mereka nilai telah dimodifikasi. Mereka juga mempersoalkan perubahan mendadak pada skema bobot nilai, dari 60% tes tertulis – 40% wawancara menjadi sebaliknya.
Koordinator aksi, Akhmad Zaenuri, menyebut perubahan itu janggal dan merugikan peserta.
“Saya tertulis rangking tertinggi, tapi nilai wawancara justru paling rendah. Kami minta wawancara ulang dan kembalikan skema awal,” ujarnya.
Aksi semakin panas saat massa membawa replika pocong yang mereka sebut sebagai simbol “matinya hati nurani panitia Pilwu” dan “dibungkamnya kebenaran”. Ban bekas juga dibakar di depan pendopo, hingga sempat terjadi saling dorong dengan aparat.
Ketegangan mereda setelah perwakilan massa diterima Sekda Indramayu, namun hasil audiensi dinilai belum memuaskan.
“Jawabannya masih seputar PTUN. Yang kami minta sederhana: tunjukkan nilai asli,” kata Zaenuri.
Sementara itu, Plt Kepala DPMD Indramayu, Kadmidi, membantah ada kecurangan dan menegaskan penundaan Pilwu hanya bisa dilakukan oleh pemerintah pusat.
Massa menuntut penundaan Pilwu di desa yang bersengketa serta wawancara ulang sebagai pembuktian objektif.
“Kami hanya ingin proses yang adil,” tegas Zaenuri. (Arrie tharina)

