ExposeBanten.com | Lebak – Persediaan obat serum Anti Bisa Ular (ABU) di kawasan permukiman masyarakat adat Baduy, Kabupaten Lebak, kini terpenuhi di seluruh puskesmas penyangga wilayah tersebut. Ketersediaan ini memastikan warga Baduy dapat segera mendapatkan penanganan medis apabila menjadi korban gigitan ular berbisa.
Sekretaris Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Medi menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas perhatian dan pemenuhan stok obat tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kabupaten Lebak yang telah memenuhi persediaan obat serum ABU,” ujar Medi belum lama ini.
Menurut Medi, masyarakat Baduy yang berjumlah sekitar 11.600 jiwa dan tersebar di 68 perkampungan sering menghadapi risiko gigitan ular berbisa, khususnya jenis ular tanah (Calloselasma rhodostoma), yang banyak ditemukan di kawasan hutan dengan suhu dingin.
Setiap musim membuka lahan pertanian, warga kerap berhadapan dengan habitat ular tersebut, terutama saat melakukan pembabatan ilalang dan penebangan pohon.
Sepanjang September 2025, sejumlah warga Baduy yang menjadi korban gigitan ular telah mendapatkan penanganan medis di puskesmas penyangga seperti Puskesmas Leuwidamar, Cisimeut, Cirinten, Bojongmanik, Muncang, dan Sobang.
Sebelumnya, masyarakat Baduy sempat kesulitan memperoleh obat serum ABU sehingga korban gigitan ular harus dirujuk ke RSUD Adjidarmo Rangkasbitung atau RSUD Banten. Kondisi itu menyebabkan keterlambatan penanganan medis dan beberapa kasus berujung fatal.
Selain itu, Medi juga menuturkan adanya kasus warga Baduy Dalam yang sempat diminta biaya pengobatan hingga Rp3 juta oleh seorang mantri dari luar daerah, namun akhirnya disepakati membayar Rp500 ribu setelah adanya protes warga.
“Kami berharap dengan terpenuhinya serum ABU, masyarakat Baduy yang menjadi korban gigitan ular dapat segera ditangani di puskesmas terdekat,” kata Medi.
Kepala Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Endang Komarudin, mengatakan pemerintah daerah menyiapkan antara 5 hingga 10 vial serum ABU di setiap puskesmas penyangga masyarakat Baduy.
“Semua persediaan ABU di lima puskesmas penyangga masyarakat Baduy, yakni Cisimeut, Cirinten, Bojongmanik, Muncang, dan Sobang sudah terpenuhi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Koordinator Sahabat Relawan Indonesia (SRI), Muhammad Arif Kardiat, menyebut berdasarkan data lembaganya dari Januari hingga Agustus 2025 terdapat 49 warga Baduy yang menjadi korban gigitan ular tanah, dan tujuh di antaranya meninggal dunia.
Langkah pemerintah dalam memenuhi kebutuhan serum ABU ini diharapkan dapat menekan angka kematian akibat gigitan ular di kawasan masyarakat adat Baduy. (Ajat)
