Metropostnews.com – Membangun citra diri yang sudah terlanjur buruk, memang kerja sia-sia belaka. Apalagi kesalahan sudah berulang dilakukan dengan kesan yang sangat dipahami dan disadari sepenuhnya, sehingga jelas menunjukkan bukan suatu kekeliruan yang tidak disengaja. Kamis (17/10/2024)
Kesalahan yang dapat dimaafkan itu karena kekeliruan, bukan kesengajaan. Jadi mana mungkin ada permaafan, jika semua yang dilakukan itu jelas mengekspresikan ambisi dan syahwat bejat dirinya sendiri
Karena itu, upaya memperbaiki citra yang terlanjur melukai hati orang banyak sulit untuk mendapat permaafan seperti yang diharapkan.
Upaya memperbaiki citra dan meminta maaf yang sia-sia itu justru menunjukkan watak culas yang asli sebagai sikap dan sifat sebagai tukang tipu untuk memperdaya dan merendahkan akal Budi orang lain
Apalagi perlakukan serupa itu dilakukan terhadap orang banyak yang menaruh amanah kepercayaan untuk dilaksanakan seperti kepada wakil rakyat serta aparat pemerintah yang seharusnya bergiat melakukan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan umum dan memberantas kemiskinan serta mengupayakan peningkatan kecerdasan rakyat seperti yang diamanahkan oleh UUD 1955 serta Pancasila sebagai ideologi negara dan falsafah bangsa Indonesia yang sudah final.
Untuk meninggalkan kemewahan, kekuasaan dengan segenap fasilitas yang bisa dinikmati selama menjalankan amanah rakyat yang tidak amanah, memang akan ada bayang-bayang dosa yang menggelayuti diri, semua itu harus ditinggalkan
Memang abstrak tapi nyata adanya seperti gondoruwo yang terus membuntuti ke mana saja perginya, tidak kecuali sampai ke tempat tidur yang semestinya nikmat, asyik dan santai bersama istri dalam satu selimut. Tapi gondorowo itu terus mengikuti, sebagai bukti dari keculasan yang tidak mungkin termaafkan sampai kapan pun.
Sekedar penyesalan, bisa saja begitu adanya, tapi itu semua dapat dipahami oleh banyak orang yang terluka dan menderita akibat deraan dari perbuatan bejad yang tidak pernah diharapkan saat memberikan amanah dan kepercayaan untuk dijalankan saat bertahta di tampuk kekuasaan yang memang cenderung memabukkan itu
Lantaran ambisi dan egoisme adalah ideologi bawaan yang harus dilawan dan dikendalikan agar harkat kemanusiaan tidak terjerembab menjadi sekelas hewan yang hanya mengandalkan naluri, nafsu dan ketamakan tanpa batas.
Permohonan maaf itu sendiri sesungguhnya beranjak dari rasa bersalah entah kepada siapapun dan untuk siapapun dengan suatu kesadaran penyesalan dan tak lagi hendak mengulangi segala bentuk kesalahan atau sekedar janji kosong untuk memperdaya orang lain agar memberi simpati hingga rasa iba yang tidak penting bagi seorang kesatria sejati
Karena itu dalam berbagai pandangan falsafah para leluhur suku bangsa Nusantara yang otentik dan sahih ada pengertian dan pemahaman terhadap grid setiap orang yang berkelas Kesatria, Brahmana, Shiwa dan Sudra.
Sejumlah titel dan gelar hingga ijazah dan sertifikat, sia-sia untuk ditempelkan didepan maupun di belakang nama yang tidak pantas menyandang titel tersebut.
Rakyat tidak membutuhkan itu semua, kesejahteraan rakyat yang utama, kemiskinan semakin merajalela, gelar hanya pencitraan semata
(Abosopian)
