Cita-Cita Bangsa di emban oleh semua elemen Bangsa yang ada dalam suatu negara, tentunya dalam hal ini adalah negara Indonesia, didalam suatu negara tentu ada regulasi untuk menjalankan roda pemerintahan supaya berjalan dengan baik, pemerintah yang baik merupakan pemerintah yang mengedepankan kepentingan rakyat nya, bukan kepentingan kelompok atau golongan.
Didalam negara yang menganut sistem Demokrasi akan melakukan estapeta kepemimpinan dan menjalankan pergantian kepemimpinan melalui pemilihan umum yaitu sarana untuk memilih presiden, wakil presiden, dewan perwakilan rakyat, dewan perwakilan rakyat daerah, dan dewan perwakilan daerah yang dipilih secara langsung oleh masyarakat.
Kematangan berdemokrasi seharus nya sudah menjadi kenyataan, semua pemimpin harus mampu membawa kehidupan masyarakat menjadi maju dan dapat menyelesaikan semua problematika kebangsaan serta mampu mewujudkan kehidupan yang sejahtera bagi rakyatnya.
Di Indonesia segala kemelut kebangsaan masih belum terselesaikan, pemilu hanya dijadikan ajang perebutan kekuasaan oleh partai atau kelompok dan golongan tertentu saja, akan tetapi menyampingkan kepentingan bangsa.
Dinamika problematika politik yang tidak sehat, akan mempengaruhi semua aspek kehidupan diantaranya aspek sosial, budaya, ekonomi dan semua bentuk kebijakan pemerintah akan terganggu kemudian akan berdampak kepada kehidupan masyarakat di tingkat menengah kebawah.
Pada aspek sosial akan mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat dimana kesenjangan sosial akan terus terasa di tengah-tengah negara yang besar dan kaya akan sumber daya alam ini namun kenyataan yang terjadi adalah yang miskin semakin miskin dan yang kaya akan semakin kaya.
Pada aspek budaya yang terjadi adalah prilaku atau kebiasaan hidup akan berubah, karakter bangsa tidak sesuai dengan jati diri bangsa, dimana budaya gotong royong, di tengah-tengah masyarakat akan tergerus oleh budaya apatis kemudian yang akan terjadi adalah “Dehumanisasi” Menurut Prof. Dr. Nurcholis Madjid dehumanisasi adalah prilaku yang tidak memanusiakan manusia, dikarenakan semua kehidupan manusia di hadapkan dengan kebutuhan materi, ahirnya masyarakat menjadi masyarakat yang industrialis yang selalu bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Aspek ekonomi yaitu ketidak merataan nya penghasilan masyarakat terbukti dimana monopoli ekonomi yang dilakukan oleh kelompok imprealis yang tidak memberikan kesempatan kepada masyarakat biasa untuk mengembangkan perekonomiannya, masyarakat hanya dijadikan alat dan dijajah oleh bantuan-bantuan pemerintah yang sifat nya tidak produktif dengan pola ini maka jelas akan mempertahankan kemiskinan.
Belum lagi persoalan politik identitas yang berpotensi memecah belah bangsa dan menghambat Demokrasi padahal dampak politik identitas tidak hanya berpengaruh kepada miskinnya ide dan gagasan, dampak politik identias dapat menjadi lebih buruk dari itu yaitu mengahcurkan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Maka dari itu sebagai anak bangsa para kontestan perpolitikan yang akan dimulai di tahun 2024 ini harus mengedepankan kepentingan rakyat nya bukan mementingkan kepentingan partai, kelompok dan golongan tertentu saja.
Kepemimpinan yang akan dihasilkan dari produk pemilu 2024 yang nanti akan dipilih harus berinterpretasi dari masyarakat bangsa bukan untuk kepentingan partai, sehingga negara kita akan mampu menjadi negara yang maju.
Kecerdasan masyarakat dalam berpartisipasi di pemilu nanti akan menjadi instrumen penting dan tolak ukur keberhasilan Demokrasi suatu negara.
Penulis : M.Navi Maulana Abdullah
Divisi otonomi Daerah, pemerintahan dan partisipasi publik MD KAHMI Kab. Serang
