Oleh: Udin Ahidin
Dosen Pascasarjana
Universitas Pamulang Kota Tangerang Selatan-Banten
Kecerdasan berfikir manusia membuat dunia berubah dengan cepat. Akan tetapi perubahan yang terus berlangsung tidak semua manusia dapat beradaptasi dengan kondisi yang baru dan terus berubah. Jika kita sebagai manusia dapat menyesuaikan bahkan mengelola dari perubahan tersebut, maka kita akan bertahan bahkan bisa jadi leader dalam perubahan tersebut. Di Era Teknologi 4.0 sekarang ini hampir semua sektor kehidupan berbasis teknologi termasuk dalam sektor ekonomi dan bisnis, jika tidak maka pelan tapi pasti akan ditinggalkan oleh masyarakat sebagai konsumen perusahaannya.
Fase kehidupan manusia dalam setiap generasi memiliki ciri, karakter dan keunikan tersendiri, tentunya dari satu generasi ke generasi lainnya memiliki keunikan yang berbeda. Perbedaan itu disebabkan oleh banyak faktor seperti faktor kondisi politik, ekonomi sosial, budaya, pertahanan, keamanan, teknologi dan trend-trend yang berlaku disaat generasi itu hidup dan booming. Fakta menunjukan bahwa keunikan yang muncul dari setiap generasi memberikan pengaruh pada kehidupan manusia. Misalnya dalam ekonomi dan bisnis yang di dalamnya ada berbagai jenis usaha disetiap generasi memberikan keunikan dalam kontribusi pengembangan usaha.
Jika kita amati ada istilah Generasi Milenial dan Generasi Kolonial. Meski nama itu tidak terlalu paham artinya dan asal usulnya namun nyatanya istilah tersebut sudah diterima dan digunakan masyarakat pada umumnya. Memperhatikan pekembangannya dalam masyarakat, istilah ini dilatar belakangi oleh perkembangan teknologi informasi yang kian pesat dan cepat berkembang. Perkembangan teknologi informasi tersebut sudah menyebar sampai ke tingkat individu hampir di seluruh pelosok Tanah Air Indonesia. Bentuk teknologi tersebut berupa Hand Phone (HP). Dampak dari perkembangan teknologi informasi tersebut menurut Badan Pusat Statistik (BPS, 2020) bahwa populasi Indonesia saat ini dikelompokan dalam 6 (enam) generasi yaitu Post Generasi Z (Post Gen Z), Generasi Z (Gen Z), Milenial, Generasi X (Gen X), Baby Boomer, dan Pre-Boomer. Post Gen Z adalah generasi yang lahir pada 2013 dan seterusnya. Adapun Gen Z, merupakan generasi yang lahir pada 1997-2012. Mereka sekarang berusia 8-23 tahun. Sedangkan Milenial yaitu generasi yang lahir pada 1981-1996 (saat ini berusia 24-39 tahun). Selanjutnya Gen X adalah generasi yang lahir pada 1965-1980 (sekarang berusia 40-55 tahun). Kemudian Baby Boomer, yaitu generasi yang saat ini berusia 56-74 tahun (lahir 1946-1964). Lalu terakhir adalah Pre-Boomer merupakan generasi yang lahir sebelum 1945. Berarti usia mereka saat ini 75 tahun ke atas.
Berdasarkan informasi di atas, dari 6 (enam) kelompok generasi yang ingin penulis soroti dan paparkan adalah generasi milenial. Hal itu karena ada data empiris yang dapat kita amati dari BPS (2021) bahwa mayoritas umur penanggungjawab atau pemilik usaha E-Commerce berada dalam rentang 25-40 tahun. Fenomena ini menunjukan bahwa penanggungjawab atau pemilik usaha E-Commerce mayoritas merupakan Generasi Milenial yang banyak berinteraksi dengan perkembangan teknologi, termasuk di dalamnya E-Commerce.
Informasi di atas menjadi renungan untuk banyak orang seperti: individu atau organisasi yang mau memulai usaha, pengusaha pemula, pengusaha yang sudah jalan dan sukses dengan konvensional tetapi mulai tersendat takala masuk era teknologi sekarang ini yang serba digital, pengusaha yang sukses berbasis teknologi tetapi penggerak teknologi (SDM) maupun perangkat teknologinya sudah mulai usang ketinggalan, orang tua atau keluarga yang menghadapi sendi kehidupan yang serba digital, instansi pemerintah, instansi swasta baik yang berorientasi profit maupun non profit yang memiliki layanan publik agar lebih efektif dan efisien. Generasi Milenial menjadi salah satu alternatif solusinya. Ini artinya bahwa keberadaan Generasi Milenial ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Para Generasi Baby Boomer dan Pre-Boomer sudah saatnya menyadari dan mengakui bahkan menghormati eksistensi Generasi Milenial bahwa mereka memliki potensi yang tinggi dalam pemecahan masalah dalam penyertaan teknologi dalam layanan di perusahaan, layanan publik, layanan edukasi sekolah/kuliah atau keluarga dalam berbagai interaksi dan transaksi.
Pesan penulis adalah yuuu kita berdayakan Generasi Milenial untuk menghadapi problematika digital, terutama dalam pengembangan usaha bagi para pelaku usaha. Hal ini selaras dengan teori dalam ilmu manajemen menjelaskan bahwa “The right man on the right place” (menempatkan sesorang sesuai dengan kemampuan atau keahliannya). Sehingga sudah menjadi keniscayaan masalah teknologi diserahkan kepada Generasi Milenial. ini merupakan pesan strategis dari penulis. Untuk pesan teknisnya tetap ada yang namanya filter, dalam arti bahwa Generasi milenial tersebut tidak semuanya mahir teknolog. Maka perlu ada pengenalan dan pelatihan. Hanya saja Ketika Generasi Milenial dikenalkan teknologi secara rata-rata mereka enjoy, suka, happy, bahkan seperti makanan yang menjadi kebutuhan primernya mereka. Berbeda dengan generasi Baby Boomer dan Pre-Boomer yang sudah kolot secara rata-rata jika dikenalkan teknologi mereka merasa seperti tambah ribet, pusing, dan kontradiktif lainnya.
Generasi Baby Boomer dan Pre-Boomer (kolot) dalam pengelolaan sebuah usaha masih tetap diperlukan bahkan masih strategis dalam hal memegang pilosofis perusahaan, pengendali perusahaan, dan motivator untuk Generasi Milenial, karena generasi kolot keunggulannya adalah memiliki kematangan dari pengalaman riil, sehingga dalam pengambilan keputusan menjadi sangat penting membutuhkan keberadaan generasi kolot tersebut. Oleh karena itu alangkah baiknya jika adanya sebuah kolaborasi yang harmonis dan startegis antara Generasi Milenial dengan Generasi Kolonial (kolot) keduanya akan saling suport terhadap kebutuhan perusahaan terutama dalam pengembangan usaha di era teknologi 4.0 yang serba digital. Dengan adanya kolaborasi melalui pemberdayaan Generasi Milenial biasanya Generasi Baby Boomer juga akan terbawa Milenial. Secara kelembagaan perusahaan pun ikut milenial juga, minimal ada sebuah sharing knowledge dan skill dari Generasi Milenial ke Generasi Kolonial, dan Sharing attitude dan experience dari Generasi Kolonial ke generasi Milenial.. Dalam kehidupan nyata sekarang dapat kita amati jika suatu organisasi sudah melibatkan Generasi Milenial atau ada kolaborasi antara Generasi Kolonial dengan Generasi Milenial, maka organisasi itu tetap eksis dengan perubahan dan perkembangan teknologi sekarang ini. Riilnya banyak contoh seperti lembaga pemerintahan sudah banyak mentri yang muda-muda, di perguruan tinggi sudah mulai muncul rektor dan jajaran rektorat yang masih muda masuk Generasi Milenial. Di luar sana banyak pengusaha muda sukses sebagai representasi dari generasi Milenial
Kolaborasi menjadi kata kuncinya untuk berkembang dan maju, karena di dalam kolaborasi adanya penyatuan lebih dari satu kekuatan menjadi satu untuk bergerak maju. Di sisi lain dalam kolaborasi, dua generasi ini menjadi sangat penting untuk memastikan terjadinya perubahan estafet dari generasi ke generasi secara baik, positif, dan keberlanjutan terhadap perkembangan organisasi bisnis yang dikelola. Insya Allah. (GSA-Udin Ahidin).
