METROPOST1.COM — Lip sync bukanlah sesuatu yang aneh dalam bisnis pertunjukkan saat ini. Tapi sebelum era millenium, lyp sync adalah sebuah aib bagi musisi.
Tanggal 19 November 1990, bisa dibilang momen puncak dari salah satu bencana yang paling memalukan dalam sejarah musik pop. Hari itu, Milli Vanilli harus menyerahkan kembali piala Grammy mereka.
Milli Vanilli dimulai dari gagasan produser dan penulis lagu asal Jerman Frank Farian. Pada awal 1988, Farian merekam sebuah grup album, namun ia menyadari vokalisnya kurang menjual, dengan alasan fisik.
Karena albumnya sudah selesai diproduksi, tanpa pikir panjang Farian merekrut penari dan model Robert Pilatus dan Fabrice Morvan sebagai vokalis saat album ini dirilis di Eropa pada musim panas tahun 1988. Farian sama sekali tidak memperhatikan bahwa menyanyi tidak ada dalam resume mereka.
Saat album Milli Vanilli dirilis ulang di Amerika secara besar-besaran oleh Arista Records awal tahun 1989, semua jejak vokalis yang asli telah lenyap.
Apalagi setelah mencetak tiga kali hits No.1 dan menyabet Grammy Award untuk Best New Artist, Pilatus dan Morvan pada dasarnya telah menjadi Milli Vanilli yang ‘seutuhnya’.
Kedok mereka mulai terbongkar pada saat pertunjukkan Live MTV akhir tahun 1989. Saat mereka membawakan lagu “Girl You Know It’s True”, salah satu hits mereka, backing track yang menjadi andalan mereka tersendat-sendat, lirik “girl you know it’s true” terus terdengar berulang-ulang.
Mereka benar-benar tidak bernyanyi..!! Sebenarnya tak seorang pun penonton di konser itu mengetahui ada yang janggal atau jika mereka benar-benar menyadarinya pun, mereka tidak akan peduli. Tapi media yang hadir di sana mengendus sesuatu yang tidak beres tengah berlangsung.
Media mulai meneliti dengan seksama rekaman Milli Vanilli, dan pada 12 November, Farian mengakui bahwa Morvan dan Pilatus tidak menyanyikan lagu-lagu Milli Vanilli. Empat hari kemudian, pada 19 November 1990, piala Grammy Milli Vanilli harus dilucuti.
Itu bukan akhir dari Milli Vanilli, mereka tetap melanjutkan karier musik mereka dengan merekam album kedua sebagai “The Real Milli Vanilli” -dan tentunya bukan akhir dari lip sync-halo, Ashley Simpson!
Peristiwa terbongkarnya rahasia Milli Vanilli hingga kini masih tetap dikenang sebagai kepalsuan terbesar dalam sejarah musik. Dan mungkin Anda henerasi 90an bertanya-tanya, “Jika backing track mereka tidak rusak waktu itu, akankah kita mengetahui kebenaran tentang Milli Vanilli hari ini?
Di saat Milli Vanilli akan mencoba peruntungan kembali, Rob Pilatus meninggal pada tahun 1998 setelah overdosis pada kombinasi obat-obatan dan alkohol dia meninggal pada usia 32 tahun. Tentu depresi dan rasa putus asa pasca hancurnya Milli Vanilli sangat mempengaruhi psikis Pilatus.
“Saat mengembalikan Grammy, saya pulang kerumah dan menceritakan kepada keluarga, mama saya katakan buatlah hal yang benar dan itu akan membawa kamu lebih tinggi” kata Fab Morvan.
“Lalu saya menemukan musik adalah bagian dari diri saya dan saya tidak dapat hidup tanpanya, saya mendapati saya bisa menulis lagu dan memiliki bakat menjadi produser” Ia menambahkan.
“Saya merasa berbeda, saya menemukan sebuah harapan disana. Saya bertanya what Next ? dan saya melihat kebangkitan di sana” ujar Fab. Fab, terus melanjutkan karir musik dia sampai saat ini di 2021.
Sementara Rob Pilatus merasa frustrasi seperti spiral yang berputar, terus menyeret dia kebawah. Dia menkonsumsi obat-obatan untuk “menyembuhkan” luka hati nya.
Walaupun berusaha untuk bangkit, Pilatus terus membawa luka hati itu. Dari terkenal menjadi bukan siapa-siapa, dari bintang menjadi “binatang” tentu bukan hal yang mudah untuk Pilatus.
Sebetulnya Farian membayar ongkos drug rehabilitation Pilatus selama 6 bulan dan tiket pesawat terbang kembali ke Jerman. Pada malam sebelum tur untuk mempromosikan album baru mereka pada 2 April 1998, sayang nya takdir berkata lain album tersebut tidak pernah terbit.
Grup ini menjual lebih dari sepuluh juta rekaman di seluruh dunia selama karier mereka.
Ada dua sisi dari cerita ini: Rob dan Fab merasa dimanipulasi dan dibayar rendah, dengan Fab memberi tahu LA. Times: “Produser kami menipu kami. Kami menandatangani kontrak sebagai penyanyi tetapi tidak pernah diizinkan untuk berkontribusi. Itu adalah mimpi buruk.”
Farian mengatakan kepada surat kabar yang sama bahwa ia membayar mereka $ 2,1 juta, tetapi Pilatus menginginkan lebih dan memaksa. Kata Farian: “Saya belum pernah mendengar penyanyi seburuk itu. Mereka ingin bernyanyi. Mereka ingin menulis lagu. Itu tidak pernah terjadi. Mereka malah pergi ke diskotek sampai jam 4 pagi dan tidur sepanjang hari. Yang mereka lakukan hanyalah pesta. Seseorang yang hidup seperti itu tidak dapat membuat musik yang bagus. “
Milli Vanilli akan dikenang sebagai “penipu” atau minimal “artis ilpsync”, meskipun kalau dipikir-pikir, duo Rob Pilatus dan Fab Morvan tidaklah mungkin bertindak sendiri, atau atas inisiatif mereka berdua. Ironisnya, bahwa produser Frank Farian sebagai mastermind atau pelaku utamanya masih bisa menjalani kariernya seperti biasa, namun tak seorang pun akan mengenangnya sebagai “The Real Milli Vanilli”.
Penulis : Andrian
Dari berbagai sumber.




