METROPOSTNews.com | Lebak – Berbicara tentang seni bela diri khususnya di Indonesia, tentu tak bisa dilepaskan dari seni pencak silat yang merupakan seni tradisional yang sudah ada turun temurun. Sejarah pencak silat di Indonesia dan perkembangannya sudah dimulai sejak zaman kerajaan, kemudian berkembang pada zaman penjajahan Belanda, kemudian pada zaman penjajahan Jepang, hingga yang terakhir ketika masa kemerdekaan.
Selain digunakan sebagai upaya untuk mempertahankan diri, seni bela diri ini juga menjadi salah satu seni budaya yang keberadaannya tetap dilestarikan sampai sekarang, bahkan telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Di Indonesia sendiri, sangat banyak berdiri Perguruan Pencak Silat dengan berbagai macam aliran.
Sejumlah Padepokan (Paguron -red) pencak silat, salah satunya Padepokan Maung Kumbang yang beralamat di Kampung Kubang Barokah, Desa Cigoong Utara, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten berharap mendapatkan bantuan sarana prasarana latihan dari Pemerintah maupun IPSI yang sekarang seperangkat gendang pencak kondisinya sudah rusak.
Pimpinan Padepokan Maung Kumbang, Abah Solihin mengatakan, sejak didirikan tahun 2006 padepokan yang dipimpinnya belum tersentuh bantuan dari pemerintah maupun induk organisasi pencak silat (IPSI)
“Padahal kami ingin mengembangkan seni budaya pencak silat ini sambil menciptakan atlet berbakat. Bagaimana bisa mengembangkan seni budaya pencak silat dan menciptakan atlet, jika sarana prasarananya saja tidak memadai,” kata Abah Solihin kepada wartawan dikediamannya, Jumat (10/06/2002)
Hal yang sama dikatakan pembina Padepokan Maung Kumbang, Aceng Sanwani. Menurutnya, sarana latihan berupa matras maupun peralatan lainnya kini kondisinya sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi.
“Saat ini kami membutuhkan seperangkat pakaian silat anak-anak dan dewasa, golok IPSI 2 buah, tongkat 2 buah dan matras juga seperangkat gendang pencak silat yang saat ini kondisinya sudah rusak,” ujar Aceng.
Dijelaskan Aceng, sudah ada ratusan alumni dari Padepokan Maung Kumbang yang tersebar di sejumlah kota di Indonesia dan kini ada sekitar 50 orang anak-anak yang tinggal disekitar wilayahnya menjadi anggota dan anak didik di Padepokan tersebut.
“Kami juga pernah meraih juara di beberapa event dan lomba diantaranya, juara 2 Festival Rampak Silat Tingkat Kabupaten Lebak tahun 2013, juara 2 Festival Silat Banten dan beberapa kali juara O2SN tingkat kecamatan dan mewakili Kecamatan Cikulur ke tingkat Kabupaten juga pernah ikut berpartisipasi dalam Festival Silat Dunia di Purwakarta pada tahun 2017,” terang Aceng.
Namun Aceng juga tidak memungkiri, kurangnya perhatian dari Pemerintah serta ketersediaan sarana pendukung seperti alat-alat masih menjadi salah satu permasalahan karena kurangnya anggaran.
“Saya berharap semoga ada perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten Lebak untuk memajukan kesenian ini dan juga semoga ada pihak-pihak yang mau membantu menjadi donatur, karena kami memang sangat membutuhkan peralatan untuk menunjang performa kami”, pungkasnya. (Ajat)



