METROPOST1.COM — Warik adalah single ketiga Wondergel yang rilis pada Jumat, 24 Agustus 2021 via Youtube Premiere di channel Wondergel Reunion https://www.youtube.com/channel/UC7eB6X69TeZlqIrKwhOgscw.
Lagu Warik adalah remake dari single lawas milik band era 90-an Last Few Minutes (LFM), beranggotakan Almarhum Ari Malibu, Rodho Hafiedz (Slank) dan Adam Joswara (Kubik/Koil). Dinyanyikan bersama oleh Diah ‘Nandut’ Rajanti dan Meita Kasim, ini adalah moment bersejarah karena untuk pertama kalinya Wondergel mencoba melakukan remake lagu dari band lain.
Dipersembahkan sebagai penghormatan untuk almarhum Ari Malibu, Warik versi remake ini diproduseri Raden Agung Hermawan Fitrianto dan Mixing Mastering oleh Kelana Halim di Studio Kelana. Warik dirilis secara mandiri, dan sudah tersedia di berbagai kanal digital lain seperti Spotify, iTunes, Apple Music dan lainnya.
Alasan Wondergel memilih nomor lawas LFM, Meita Kasim menjelaskan bahwa karya-karya LFM sangat progresif untuk jamannya, meski nama LFM tidak begitu meledak baik di industri musik mainstream maupun di skena independen era 90-an saat itu.
“Tidak banyak orang kenal dengan band ini. Mungkin, karena cuma meluncurkan satu album di tahun 1995, lantas bubar. Kami pun begitu, rilis satu album di tahun 1997 lantas bubar di tahun 2000. Kami merasa hampir senasib dgn LFM, namun saat ini kami ingin kembali bermusik,” ungkap Meita.
Mengenai Warik, Nandut menambahkan bahwa Warik itu dipetik dari bahasa Jawa halus yang artinya Kera, semacam kata makian kepada major label.
“Awalnya kami kira, lagu ini bercerita tentang laki-laki yang dikecewakan oleh pacarnya. Ternyata, setelah ngobrol dengan Mas Ridho (Ridho Hafiedz/Slank) sebagai pencipta lagu asli, makna lagu ini ditujukan sebagai umpatan ‘halus’ untuk major label yang pada jaman itu menjadi penentu selera rilisan musik-musik mainstream di Indonesia tahun 90-an,” jelas Nandut.
Makna lagu ini kemudian relevan dengan pengalaman Wondergel sebagai salah satu band independen di dekade 90-an dengan semua personilnya perempuan. Nandut lalu menambahkan, “Saat itu kami sering dinilai sepele, dikesampingkan, dan kurang dianggap karena status kami sebagai band perempuan.”
Meita sendiri menilai bahwa lagu ini terasa lebih ‘dark’ dari karya-karya Wondergel sebelumnya. “Rasa kecewa dan putus asa itu sifatnya universal. Topiknya boleh berbeda-beda, tapi rasa dan emosinya sama-sama bisa bikin jiwa kita lumpuh. Lagu ini adalah manifestasi dari rasa frustasi itu,” ungkapnya.
Dengan dirilisnya single ketiga Warik ini, Wondergel memang bukan sekedar lagi comeback, tapi juga tengah menyiapkan album anyar. “Pelan-pelan kami akan mengeluarkan single setiap tiga bulan. Insya Allah, jika memungkinkan, kami akan meluncurkan album kedua kami nanti. Mohon doa restunya!” tegas Meita.
Wondergel merupakan salah satu band influencer berkembangnya britpop, new wave, punk ke Indonesia lewat scene musik Poster Cafe dan Young Offender di Jakarta, ketika skena independen terbentuk di era 90-an.
Meski pada awal karirnya Wondergel banyak meng-cover lagu-lagu Sex Pistols, Elastica dan Suede, band yang dibentuk tahun 1992 ini menjadi band independen pertama dengan semua personilnya perempuan, yang berhasil masuk ke dapur rekaman dan menghasilkan satu album penuh self-titled yang rilis pada 1997 (M Music Production/ Musica).
Bubar di tahun 2000, Wondergel kemudian menggelar konser reunian setelah total 17 tahun hiatus dari aktivitas mereka bermusik pada 12 Agustus 2017.
Di tahun 2019, band indie pop lawas ini menyatakan aktif kembali bermusik dengan formasi baru -dari berenam menjadi duo, yaitu sang pendiri Meita Kasim (songwriter/vocal/spoken words) dan Diah Rajanti aka Nandut (guitar/vocal) yang telah bergabung bersama Wondergel sejak tahun 1995.
Keduanya merilis comeback single berjudul ‘Di Bangku Taman’ (2019) di bawah naungan Lingkar8. Setahun kemudian, single kedua The Guiding Light (2020) diluncurkan secara independen yang juga masuk ke dalam album kompilasi Young Offender pada awal 2021. (Andrian)




