MetropostNews.com | INDRAMAYU — Di tengah gegap gempita meriahnya suasana perayaan menuju lima abad, ada banyak kabar baik yang disampaikan pemerintah daerah.
Dari tata kelola pemerintahan, Indramayu disebut masuk peringkat 5 nasional dan peringkat 3 Jawa Barat dengan predikat kinerja tinggi.
Di sektor pangan, Indramayu tetap menjadi salah satu lumbung padi utama dengan produksi sekitar 1,7 juta ton per tahun.
Sementara dari sektor perikanan, produksi Indramayu mencapai 528.873,80 ton, atau sekitar 33,99 persen dari total produksi perikanan Jawa Barat.
Angka stunting juga turun cukup signifikan, dari 18,4 persen pada 2023 menjadi 9,8 persen pada 2024.
Tapi di usia yang hampir mencapai lima abad, pertanyaan penting justru muncul:
Sudahkah kekayaan Indramayu benar-benar dirasakan seluruh warganya?
Bupati Indramayu Lucky Hakim sendiri mengakui masih ada ketimpangan.
Indramayu punya tanah yang subur, minyak dan gas, laut yang panjang, serta potensi ekonomi yang besar.
Namun, masih banyak warga yang hidup dalam keterbatasan.
“Tapi kenapa banyak orang tidak mampu di sini?” kata Lucky.
Pertanyaan itu mungkin sederhana, tetapi jawabannya tidak sederhana.
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan juga mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
IPM Indramayu pada 2025 berada di 71,58, tingkat pengangguran terbuka 6,47 persen, sementara angka kemiskinan masih 11,02 persen.
Artinya, perjalanan menuju 500 tahun Indramayu bukan hanya soal mencatat prestasi.
Bukan hanya soal berapa banyak produksi padi. Bukan hanya soal investasi yang masuk. Tetapi tentang satu pertanyaan yang jauh lebih penting: bagaimana agar masyarakat Indramayu semakin sejahtera.
(Arrie Tharina)

