Metropostnews.com | LEBAK – Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, terus memperkuat perannya sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional. Produksi beras dari daerah tersebut tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga memasok sejumlah wilayah di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek).
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengatakan para petani di daerahnya mampu mendukung produksi pangan nasional melalui penerapan pola tanam dua kali dalam setahun.
“Kami meminta petani untuk segera melakukan percepatan tanam setelah masa panen agar keberlanjutan produksi pangan tetap terjaga,” kata Rahmat di Rangkasbitung, Senin (22/6/2026).
Pemerintah Kabupaten Lebak mengapresiasi kontribusi para petani yang menjadikan daerah tersebut sebagai salah satu lumbung pangan di Provinsi Banten. Produksi beras Kabupaten Lebak selama ini juga disalurkan ke berbagai daerah di luar wilayahnya, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jabotabek.
Menurut Rahmat, petani di Kabupaten Lebak mengelola lahan sawah dengan luas tambah tanam (LTT) mencapai sekitar 100 ribu hektare per tahun dan menerapkan indeks pertanaman (IP) dua kali tanam dalam setahun.
Berdasarkan laporan Kementerian Pertanian, Kabupaten Lebak bersama Kabupaten Serang masuk dalam 10 kabupaten pemasok beras nasional untuk kebutuhan masyarakat Jabotabek.
Ia menjelaskan, produksi gabah kering pungut (GKP) di Kabupaten Lebak pada 2025 mencapai 725.813 ton. Setelah dikonversi menjadi beras, jumlahnya mencapai sekitar 380 ribu ton.
Sementara itu, kebutuhan konsumsi beras masyarakat Kabupaten Lebak yang berjumlah sekitar 1,4 juta jiwa diperkirakan mencapai 140 ribu ton per tahun. Dengan demikian, daerah tersebut memiliki surplus beras sekitar 240 ribu ton.
“Surplus beras tersebut dapat berkontribusi dalam mendukung kebutuhan pangan nasional,” ujarnya.
Rahmat menambahkan, komoditas padi sawah masih menjadi sumber pendapatan utama bagi petani dibandingkan tanaman hortikultura maupun palawija. Produksi padi terbesar di Kabupaten Lebak berasal dari wilayah selatan, antara lain Kecamatan Malingping, Wanasalam, Banjarsari, dan Bayah.
Dari sisi ekonomi, usaha tani padi sawah dinilai masih memberikan prospek yang menjanjikan. Dengan investasi sekitar Rp10 juta per hektare dan produktivitas rata-rata lima ton gabah per hektare, petani masih memperoleh keuntungan yang cukup baik.
“Jika harga gabah mencapai Rp6.500 per kilogram dengan produktivitas lima ton per hektare, maka potensi pendapatan kotor petani dapat mencapai Rp32,5 juta per hektare,” kata Rahmat.
Ketua Gabungan Kelompok Tani Sukabungah Kabupaten Lebak, Ruhiana, mengatakan usaha pertanian padi hingga kini masih memberikan keuntungan bagi petani, terutama karena hasil panen dapat diserap oleh Perum Bulog dengan harga gabah Rp6.500 per kilogram.
Menurut dia, biaya pengelolaan pertanian padi berkisar Rp10 juta per hektare dengan produktivitas rata-rata lima ton gabah kering per hektare.
“Kami biasanya menjual sekitar empat ton gabah dengan harga Rp6.500 per kilogram sehingga memperoleh pendapatan sekitar Rp26 juta. Sementara satu ton lainnya disimpan sebagai cadangan pangan keluarga,” kata Ruhiana. (Ajat)

