Metropostnews.com | LEBAK – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Lebak, Widy Ferdian, menyebut sinergi Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diyakini mampu mempercepat penanganan kemiskinan dan pengangguran di daerah.
Hal tersebut disampaikan Widy saat meninjau operasional KDMP Desa Jatimulya, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.
Menurutnya, kedua program yang digulirkan pemerintah pusat tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
“Dua program itu dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sehingga mampu mengatasi kemiskinan dan pengangguran,” kata Widy.
Ia menjelaskan, kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam menggulirkan Program KDMP dan MBG bertujuan mendorong kebangkitan ekonomi daerah, termasuk di Kabupaten Lebak.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Lebak juga saat ini memfokuskan pengembangan program ketahanan pangan sebagai bagian dari upaya penguatan ekonomi masyarakat.
“Kami meyakini KDMP, MBG dan ketahanan pangan merupakan bagian program untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran,” ujarnya.
Widy menambahkan, keberadaan KDMP dan MBG memiliki keterkaitan dalam menciptakan pasar bagi produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lokal. Melalui program tersebut, produk masyarakat dapat terserap untuk memenuhi kebutuhan pangan, termasuk kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ia menyebutkan, KDMP nantinya akan mengembangkan tujuh unit usaha, di antaranya kantor koperasi, kios pengadaan sembako, unit bisnis simpan pinjam, klinik kesehatan desa, apotek desa, sistem pergudangan cold storage, serta sarana logistik desa yang juga menjadi agen penyalur LPG 3 kilogram dan pupuk subsidi.
Selain itu, hasil produksi lokal dari sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan juga diharapkan dapat ditampung oleh koperasi desa.
“Kami siap mendampingi KDMP untuk menampung produksi lokal yang nantinya bisa memenuhi kebutuhan dapur SPPG atau MBG. Jika itu berjalan dipastikan tingkat pendapatan ekonomi masyarakat lokal meningkat dan bisa menghapus kemiskinan dan pengangguran,” katanya.
Sementara itu, Ketua KDMP Desa Jatimulya, Sudrajat, mengatakan pihaknya saat ini telah membuka usaha sembako serta menampung berbagai produk UMKM lokal, seperti keripik dan stik ubi, singkong, bawal, rempeyek ikan, stik bawang, rempeyek tempe, kembang goyang, roti, hingga kentang goreng.
Menurutnya, produk camilan UMKM tersebut dipasarkan dengan harga mulai Rp10 ribu hingga Rp20 ribu, menyesuaikan jenis dan kualitas produk.
Selain bergerak di sektor perdagangan, KDMP Desa Jatimulya juga menjalin kerja sama dengan Puskesmas Rangkasbitung untuk membuka layanan klinik dan apotek desa.
Sudrajat menjelaskan, koperasi saat ini memiliki 230 anggota dengan ketentuan simpanan pokok sebesar Rp50 ribu dan simpanan wajib Rp25 ribu per bulan. Adapun operasional koperasi masih mengandalkan partisipasi anggota dan belum memperoleh penyertaan modal dari PT Agrinas Nusantara Pangan.
“Kami berharap kehadiran koperasi dapat menggulirkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan bisa bermuara pada kesejahteraan,” kata Sudrajat. (Apuh)
