MetropostNews.com | Indramayu — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah dilaporkan banyak anak-anak mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan yang dibagikan dalam program tersebut. Sejumlah siswa dilaporkan mengalami mual, muntah, pusing, dan diare beberapa jam setelah menyantap makanan.
Peristiwa ini memicu kekhawatiran para orang tua dan masyarakat terhadap standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program yang merupakan salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Orang tua siswa mendesak adanya evaluasi menyeluruh, terutama terkait proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan. Mereka menilai pengawasan kualitas belum dilakukan secara maksimal, sehingga berpotensi membahayakan kesehatan anak-anak sebagai penerima manfaat utama.
Selain itu, kasus keracunan ini juga kembali memunculkan kritik mengenai pengelolaan rantai pasok bahan pokok. Sejumlah pihak mempertanyakan standar kelayakan pemasok serta mekanisme kontrol kualitas bahan sebelum diolah menjadi makanan siap saji.
Pengamat kesehatan masyarakat menegaskan bahwa program pangan berskala besar harus memiliki sistem keamanan pangan yang ketat, termasuk uji sampel berkala, sertifikasi dapur produksi, serta pengawasan langsung dari dinas kesehatan setempat.
Masyarakat berharap pemerintah segera melakukan investigasi menyeluruh, memastikan penanganan medis bagi anak-anak yang terdampak, serta memberikan transparansi hasil pemeriksaan kepada publik. Evaluasi total terhadap tata kelola dan sistem pengawasan dinilai penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Program yang bertujuan meningkatkan gizi anak-anak tersebut diharapkan tetap berjalan, namun dengan standar keamanan dan akuntabilitas yang jauh lebih ketat demi melindungi keselamatan penerima manfaat.
(Tuti Ragil)
