Metropostnews.com | Lebak — Sebanyak tiga siswa Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Lebak dilaporkan mengundurkan diri dari program pendidikan tersebut. Rinciannya, satu siswa berasal dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 34 dan dua siswa dari Sekolah Rakyat Terpadu (SRT). Faktor pengunduran diri disebut beragam.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Lebak, Lela Gifty Cleria, mengatakan pengunduran diri tersebut diketahui setelah masa libur sekolah. Namun hingga kini belum dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) karena masih dalam proses asesmen.
“Informasinya sudah kami terima, tapi belum ditetapkan dalam SK karena masih asesmen,” kata Lela saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (22/1/2026).
Lela menegaskan, meskipun terdapat siswa yang mengundurkan diri, kuota peserta didik Sekolah Rakyat tetap harus terpenuhi. Untuk SRMA 34, dari target 100 siswa, satu siswa yang keluar telah digantikan oleh calon siswa lain yang saat ini tengah menjalani proses asesmen.
“Target kita tetap 100 siswa. Itu target Presiden dan harus terpenuhi. Alhamdulillah penggantinya sudah ada dan sedang asesmen,” ujarnya.
Sementara itu, dua siswa dari Sekolah Rakyat Terpadu dipastikan tidak melanjutkan pendidikan meski telah dilakukan berbagai pendekatan. Dinsos pun langsung menyiapkan calon siswa pengganti agar kuota tidak berkurang.
“Karena anak dan orang tuanya sudah tidak ingin kembali, kita antisipasi dengan menyiapkan pengganti. Sekarang juga sedang tahap asesmen,” jelasnya.
Menurut Lela, faktor utama pengunduran diri siswa, khususnya pada jenjang sekolah dasar, disebabkan belum siapnya anak mengikuti sistem pendidikan berasrama atau boarding school karena masih sangat bergantung kepada orang tua.
“Anak-anak ini masih dekat dengan orang tuanya. Perhatian dari pemerintah sudah maksimal, tetapi keinginan anak dan orang tua akhirnya memilih keluar,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Sekolah Rakyat menerapkan sistem multi entry dan multi exit, sehingga peserta didik dapat masuk dan keluar kapan saja selama target kuota dalam tahun berjalan terpenuhi dan siswa tetap lulus sesuai ketentuan.
Lela juga mengakui adanya guru yang mengundurkan diri di Sekolah Rakyat Lebak. Namun, peristiwa tersebut terjadi sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dilaksanakan.
“Ada beberapa guru yang mengundurkan diri, tapi kejadiannya sebelum KBM digelar. Sejauh ini tidak ada kendala,” katanya.
Terkait pembangunan sarana, gedung Sekolah Rakyat di Kabupaten Lebak dibangun di Desa Cimampang, Kecamatan Panggarangan, di atas lahan seluas 8,8 hektare. Proyek tersebut saat ini baru memasuki tahap ground breaking dan ditargetkan rampung pada Juni 2026.
“Juli sudah bisa diisi untuk tahun ajaran baru 2026–2027,” pungkas Lela. (Apuh)
