MetropostNews.com/Lebak – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak kembali merealisasikan komitmennya dalam meningkatkan kualitas hunian masyarakat miskin melalui Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Pada tahun anggaran 2025, sebanyak 50 unit rumah tidak layak huni (RTLH) akan dibangun menjadi rumah layak huni dengan total anggaran Rp1 miliar dari APBD setempat.
Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Lebak, Lingga Segara, menjelaskan bahwa program ini ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah yang tinggal di rumah dengan kondisi memprihatinkan.
“Pembangunan RTLH ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Masih banyak warga yang tinggal di rumah yang nyaris ambruk dan tidak memenuhi standar kesehatan,” ujar Lingga di Lebak, Selasa (10/06/2025).
Setiap unit rumah akan menerima dana stimulan sebesar Rp20 juta untuk pengadaan material bangunan. Namun, Lingga menegaskan bahwa nilai bantuan ini belum cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan pembangunan, sehingga dibutuhkan partisipasi aktif warga melalui gotong royong.
“Kami mendorong pembangunan yang berfokus pada kualitas, terutama yang berdampak pada peningkatan derajat kesehatan keluarga penerima,” ujarnya.
Dana tersebut diprioritaskan untuk pembelian material dari toko bangunan lokal guna mendukung pemberdayaan ekonomi warga sekitar.
Adapun kriteria penerima manfaat antara lain memiliki penghasilan rendah, rumah berstatus tanah milik pribadi, serta hunian dengan kondisi tidak layak seperti berlantai tanah, tanpa sanitasi, dan tanpa pencahayaan memadai. Proses pengajuan dilakukan melalui aparat desa hingga ke tingkat kabupaten, dengan tahapan verifikasi oleh tim teknis dari DPKPP, Dinas PUPR, dan konsultan.
“Setelah diverifikasi dan dinilai layak, bantuan akan segera direalisasikan,” imbuh Lingga.
Salah satu penerima manfaat program BSPS tahun sebelumnya, Junardi (55), warga Kecamatan Kalanganyar, mengaku kini merasa tenang setelah rumahnya dibangun menjadi layak huni. Ia menilai program ini sangat membantu masyarakat kurang mampu.
“Sebelumnya kami tinggal di rumah reyot tanpa kamar mandi. Sekarang sudah punya fasilitas MCK yang layak. Keluarga kami jauh lebih sehat dan nyaman,” tuturnya. (Ajat)
