METROPOSTNews.com | Beranda DKI merupakan kegiatan diskusi membangun wacana dan mencari solusi dari kegelisahan yang ada. Kali ini, hari minggu, tanggal 19 Februari 2023 bertempat di Gedung Kesenian Mama Soegra Indramayu, Adakan Kegiatan Beranda DKI # 3 dengan mengangkat tema Perkembangan Teater di Indramayu dan Prestasinya.
Para narasumber yang terdiri dari budayawan, seniman teater, guru pembina ekskul seni, MGMP seni budaya Tingkat SMA dan SMP saling memaparkan kondisi yang ada dan harapan kedepannya tentang seni teater di Indramayu.
Tokoh Budayawan Indramayu, Supali Kasim Memaparkan “perkembangan pertunjukan teater (seni pertunjukan) di Indramayu diawali tahun 50-an seperti sandiwara, tarling, walang golek cepak. Namun ketika itu wayang golek cepak lebih dominan digemari oleh masyarakat. Baru setelah itu tahun 70-80an muncul komunitas teater modern seperti Bomer (Bocah Margasari), Geram (Generasi Merdeka), Cinde. Masuk tahun 2000-an tumbuh komunitas teater seperti Studio 50, juga teater kampus Unwir yaitu teater Coret dan disusul komunitas kampus lainnya. Sekarang muncul lagi komunitas teater Sekolah Teater Indramayu dan Rumah Teater Sawo Kecik.” Ungkapnya.
Ucha M Sarna sebagai aktivis seniman teater, salah satu pendiri teater Coret dan juga Sekolah Teater Indramayu mengungkapkan “sebenarnya teater di Indramayu cukup berkembang pada mulanya tetapi kekinian seolah redup, Sedangkan untuk teater pelajar salah satu permasalahan selain pribadi atau seleksi alam, juga kurangnya pembina teater di sekolah yang memahami teater, Alhasil beberapa kali saya menjadi juri dalam even FLS2N tingkat SMA, saya disuguhi garapan yang kurang maksimal.”
Agung Trihandono Putra, S.Pd., M.Sn Selaku. ketua MGMP Seni Budaya Tingkat SMA Kab. Indramayu mengatakan “bahwa pendidikan teater di Indramayu tingkat pelajar SMA tampaknya kurang maksimal disebabkan kurangnya guru yang berlatar belakang pendidikan seni teater”
Ungkapan serupa juga disampaikam oleh Lilis Septiana Fariyanti, S.Pd. ketua MGMP Seni Budaya tingkat SMP Kab. Indramayu. “Kita perlu melakukan sebuah gerakan seperti mengadakan workshop dengan peserta para guru seni budaya yang bekerjasama dengan Dewan Kesenian Indramayu” tambah
Abdul Koni, S.Pd. pembina ekskul teater SMK Negeri 1 Lelea menyampaikan usulan bagaimana kalau memanfaatkan momentum perayaan seperti bulan bahasa untuk menyelenggarakan event teater tingkat pelajar tentu ini perlu dukungan dan sinergitas dari kita semua baik pelaku teater, lembaga kesenian, pemangku kebijakan instansi pendidikan juga dinas terkait.”
paguyuban Anak Putu wong Dermayu dan seniman teater tradisional Sandiwara yaitu Raden Chuleang. Juga hadir sebagai bentuk dukungan dan sinergitas sesama pelaku seni di Indramayu.
Ray Mengku Sutentra Selaku Dewan Kesenian Indramayu Mengatakan “Dewan Kesenian Indramayu merupakan rumah kita bersama. Rumah insan seni di Indramayu. Kedudukan kami adalah menjembatani kepada pihak-pihak terkait akan hal ini. Namun selain itu DKI juga akan berusaha memberi peranan untuk mencari solusi atas kondisi perteateran yang ada sekarang di Indramayu, berdasarkan Ide gagasan dari para narasumber bahwa perlunya kegiatan workshop atau pelatihan guru-guru untuk menambah kompetensi guru kesenian akan kami sikapi. Setelah diskusi ini kami akan mengonsep, mempersiapkan pelatihan atau workshop tersebut. Pastinya ini memerlukan kerjasama antara kita semua. Jika kita memiliki kegelisahan yang sama maka kita akan selalu beriringan dan sinergi untuk berbuat hal yang baik, bersama-sama pula.”
Selanjutnya Ray, Sapaan Akrab Ray Mengku Sutentra, mengucapakan terima kasih kepada seluruh pengurus DKI tak terkecuali dan para narasumber yang sudah berkenan meluangkan waktunya dengan semangat kebersamaan dan juga UKM Seni, Paguyuban seni, dan semua yang hadir, yang telah membuktikan rasa kebermilikan pada DKI sebagai Lembaga Kesenian milik bersama” Paparnya
(B.Ay)

