METROPOSTNew.com | Majalengka – Perayaan hari besar Imlek, bagi sebagian kalangan, identik dengan kue, makanan khas yakni Dodol Keranjang.
Dodol keranjang atau dikenal juga dengan Dodol China adalah kuliner jenis kudapan mendadak naik daun setiap kali masuk hari besar perayaan Imlek.
Di Majalengka, ada produsen Dodol China yang telah jadi ‘legend.’ Iim Gunardi, warga RT 8, RW 4, Blok Omas, Desa Liangjulang, Kecamatan Kadipaten adalah pelaku usaha Dodol China yang sudah produksi sejak tahun 1970 an silam.
Dodol China produk Iim ini, telah merambah ke berbagai daerah dan kota, tidak hanya di Majalengka saja.
Bandung dan Tangerang adalah dua kota besar yang sudah menjadi pasang pasar dari Dodol China Iim itu.
Sebagai produsen legend, di tengah modern, Iim tetap menjaga nilai-nilai lokalitas Dodol buatannya.
Jika Dodol di pasaran dikemas dengan menggunakan plastik maka kudapan buatan Iim ini tetap menggunakan Daun Pisang, tepatnya jenis Pisang Klutuk.
Dodol buatan Iim sendiri terbilang istimewa. Pasalnya, aktivitas membuat kue itu hanya dilakukan pada saat menjelang Imlek, dan hanya jenis Dodol China saja.
Selama 1 bulan itu, Iim menghabiskan beras ketan sekitar 5 Ton.
“Khusus menjelang Imlek saja, 1 bulan sebelum Imlek. Selain itu mah, nggak bikin kue,” kata Iim pada hari, Jumat 28 Januari 2022.
Dalam perjalanannya, permintaan Dodol buatan Iim mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
Semakin berkurangnya produsen Dodol, membuat kudapan Iim itu semakin banyak diminati oleh banyak kalangan, termasuk dari luar daerah.
Saat ini, jelas dia, di Kecamatan Kadipaten hanya dirinya saja yang masih membuat Dodol musiman itu.
“Dulu mah banyak yang bikin, tapi sekarang tinggal saya aja yang bikin,” jelas dia.
Selain legend karena sudah berjalan sejak 1970 an lalu, kualitas juga menjadi salah satu Dodol China buatan Iim banyak peminat.
Beras Ketan dan Gula menjadi bahan baku pembuatan Dodol musim Imlek itu.
“Ini tanpa bahan pengawet. Semakin lama, semakin enak. Asal disimpan di tempat yang ada udara,” jelas dia.
Iim mengaku, sampai saat ini tidak bisa memenuhi jumlah permintaan.
Padahal, jelas dia, permintaan, termasuk dari luar daerah, cukup tinggi.
Namun, ada hal yang membuat dia tidak bisa memenuhi permintaan itu.
“Permintaan mah banyak, tapi kami nggak mampu memenuhi. Tempatnya kurang,” ujarnya.
Untuk ukuran sendiri, Iim lebih memfokuskan ukuran kecil. Namun, pada umumnya pembelian lebih banyak 1 kilo.
“Satu kilo itu isi 3 biji. Tapi kadang ada juga yang pesan dengan ukuran tertentu,”
Sementara, proses pembuatan Dodol China sendiri memerlukan waktu yang lama. Proses mengadon adalah tahapan yang paling lama memerlukan waktu.
Setelah proses membuat adonan, bahan Dodol tidak langsung dimasak, melainkan harus didiamkan sekitar 1 pekan.
Hal itu agar nantinya Dodol terasa lembut.
Proses memasak sendiri, membutuhkan waktu sekitar 12 jam, untuk bahan sebanyak setengah kwintal.
“Setelah selesai memasak, langsung dikemas dan dibiarkan adem. Kalau saya, di-kipas-in,” jelas dia (Ade).



