Metropostnews, Indramayu — Patok kayu jati yang berada di Taman Tjimanoek Indramayu menjadi cikal bakal awal mulanya kejayaan Sungai Cimanuk sebagai pusat niaga pada zamannya dahulu.
Salah satu peninggalan sejarah tersebut, diketahui dahulunya adalah sebuah penanda peta berupa tiang bendera. Fungsinya untuk memberitahu kepada kapal-kapal besar bahwa mereka sudah tiba di Kabupaten Indramayu untuk berdagang.
Menurut Ketua Yayasan Indramayu Historia, Nang Sadewo mengatakan, patok jati itu sudah ada sebelum wilayah Indramayu pada massa Hindia-Belanda dibentuk sebagai permukiman perkotaan. Adapun lokasi setempat, dahulu dikenal dengan sebutan Pelabuhan Bandar Cimanuk.
“Untuk usianya, kalau dilihat dari aktivitas ekonomi Sungai Cimanuk ini, itu dimulai sekitar 1680-an atau 1700 kemudian ditata menjadi kota sekitar tahun 1800-an menuju awal 1900,”.
Ditambahkan Nang Sadewo, banyak peninggalan di sekitaran Sungai Cimanuk Indramayu yang membuktikan bahwa dahulunya pernah menjadi pusat niaga. Salah satunya adalah Gedung Rijstpellerij atau Pabrik Penggilingan Padi zaman Hindia Belanda di Jalan Siliwangi Indramayu. Gedung Rjstpellerij ini beroperasi pada tahun 1927-1935 Sesuai namanya Rijstpellerij ini diambil dari bahasa Belanda yang dahulunya merupakan tempat penggilingan padi atau palawija,” ujar dia.
Gedung Rijstpellerij juga merupakan pabrik penggilingan padi pertama yang ada di Kabupaten Indramayu pada saat Pelabuhan Bandar Cimanuk masih beroperasi. Nang Sadewo menceritakan, pada zaman dahulu seluruh hasil pertanian para petani di Kabupaten Indramayu akan dikumpulkan di Gedung Rijstpellerij ini untuk dikelola.
Hasil penggilingan tersebut nantinya akan dikirimkan untuk pemenuhan kebutuhan pokok di daerah pesisir utara, seperti Cirebon, Kuningan, Subang, dan lain sebagainya. Hasil padi itu juga dikirimkan ke Belanda melalui jalur laut dari Sungai Cimanuk hingga tembus ke laut lepas.
Berdasarkan catatan sejarah, diketahui masa kebesaran Pelabuhan Bandar Cimanuk berakhir pada 1772 karena fungsinya yang beralih bukan untuk transportasi dagang, melainkan untuk mengakomodasi bahan atau kepentingan pertempuran di era Mataram.
Namun, disampaikan Nang Sadewo, Pelabuhan Bandar Cimanuk masih berfungsi sebagai pelabuhan kecil hingga 1935-1940-an. Hal itu dibuktikan pula dengan adanya enam buah patok besi bekas penambat kapal yang hingga saat ini masih tertanam di sisi-sisi jalan. “Itu dahulu saya masih ingat sekali waktu kecil di dalamnya banyak kilang bekas pipa-pipa,” jelasnya. (MT jahol)



