METROPOSTNews.com | Ciamis – Minyak Goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang digunakan sebagai media untuk mengolah berbagai jenis bahan makanan. Terjadinya lonjakan Harga yang sangat fantastis belakangan ini, kini minyak goreng telah disoroti pemerintah dengan memberikan subsidi minyak goreng untuk menjadi satu harga.
Setelah digunakan untuk mengolah bahan makanan, minyak goreng menjadi minyak bekas pakai ( Used cooking oil ), atau biasa disebut dengan minyak Jelantah, ini biasanya dibuang, bahkan para ibu rumah tangga yang selesai menggoreng kerap kebingungan mau di apakan minyak sisa-sisa menggoreng tersebut.

Minyak goreng yang telah menjadi minyak jelantah di rumah tangga maupun industri dapat berdampak buruk untuk kesehatan jika terus digunakan, juga berdampak buruk bagi lingkungan, atau dapat mencemari lingkungan jika dibuang sembarangan. Oleh karena itu, pengolahan kembali minyak goreng menjadi salah satu hal penting agar limbah jelantah ini bisa dimanfaatkan kembali.
Minyak Jelantah dijual lagi dan digunakan untuk diolah kembali sebagai keperluan dasar biodesel. Nunoris juga menjelaskan kami mengumpulkan minyak jelantah ini bukan untuk konsumsi.
Nunoris sebagai salah satu pengepul rumahan minyak jelantah ini memberikan keterangannya kepada metropostnews.com di kediamannya, “saya bersama team berusaha dalam bidang minyak jelantah sebagai salah satu bentuk menjaga kesehatan masyarakat, karena jelantah mempunyai efek serius bagi kesehatan diantaranya kanker, kolestrol, obesitas, radang tenggorokan, dan efek lainnya yang sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan penggunanya.” terangnya.
Selain berdampak buruk untuk kesehatan, Minyak bekas pakai Atau Jelantah juga Sangat berdampak buruk untuk Lingkungan. “Bukan hanya faktor kesehatan untuk penggunaan Minyak Jelantah ini, Untuk Lingkungan pun berdampak besar diantaranya Pencemaran Lingkungan, menimbulkannya kerusakan pada ekosistem air, dan Mengurangnya kesuburan tanah bila jelantah dibuangnya sembarangan, bahkan 1liter minyak jelantah ini bisa menyelamatkan 1000liter air bersih,” lanjutnya.
Selain 2faktor yang di sebutkan tadi Nunoris juga menambahkan bahwa dengan adanya pengelolaan limbah jelantah sangat bermanfaat untuk pemberdayaan masyarakat, dari mulai mengurangi pengangguran, sampai menumbuhkan perekonomian masyarakat dengan cara menambah pemasukan untuk khas dapurnya masing-masing.
Namun tepat pada saat ini Hari Rabu (26/01/2022) Nunoris sebagai pengepul rumahan Minyak jelantah di Ciamis menerangkan bahwa dirinya melakukan pemberhentian usaha di bidang minyak jelantah sampai batas waktu yang nelum bisa ditentukan. Dengan alasan Karena penerbitan Peraturan Mentri Perdagangan Nomor 2 tahun 2021 yang mulai diberlakukan pada 24 januari 2022 kemarin.
Meski seharusnya saat ini banyak minyak jelantah yang ditebus namun dirinya memilih untuk berhenti membeli.
“Sejak diterbitkannya PerMenDag ini Buyer mengirimkan pesan yang berbunyi bahwa mulai saat ini tidak melakukan transaksi pembelian minyak jelantah, karena pemerintah sedang mengkaji perihal jelantah, kemungkinan harga akan anjlok, Tunggu hingga info selnjutnya.” jelasnya.
Ia berharap besar pemerintah bisa mempertimbangkannya karena bukan hanya masalah bisnis dan keuntungan semata, elainkan banyak faktor yang terpengaruh terutama dampak negatif untuk lingkungan, ia juga menyebutkan dengan diterbitkannya peraturan tersebut, pengepul atau freelance minyak jelantah lain terancam kehilangan pekerjaan untuk menopang hidup banyak orang di masing-masing keluarganya.
Iya juga berharap adanya Perhatian lebih dari pemerintah tentang jelantah, “jika pemerintah mempersulit untuk ekspor sebaiknya pemerintah juga mengeluarkan solusi sebagai contoh memberikan pengarahan untuk mengelola limbah jelantah atau membuat sendiri sumber pabrik yang ditujukan untuk mengelola limbah jelantah menjadi biodiesel.” pungkasnya. ( iwan darmawan )