
Metropostnews.com | LEBAK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak memetakan sebanyak 23 dari 28 kecamatan di wilayah tersebut sebagai daerah rawan kekeringan pada musim kemarau 2026. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan masyarakat mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Kepala BPBD Kabupaten Lebak, Sukanta, mengatakan pihaknya telah melakukan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Agustus 2026.
Menurut Sukanta, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Kabupaten Lebak berpotensi mengalami dampak musim kemarau yang cukup panjang dalam beberapa bulan ke depan.
“Jika masyarakat sudah ada yang terdampak, kami siap mendistribusikan air bersih dengan terlebih dahulu melaporkannya melalui pemerintah desa atau kecamatan setempat,” kata Sukanta kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (4/6/2026).
Adapun kecamatan yang dipetakan sebagai daerah rawan kekeringan antara lain Leuwidamar, Cileles, Warunggunung, Cirinten, Wanasalam, Cilograng, Cihara, Bayah, Gunungkencana, Kalanganyar, Cibeber, Maja, Sajira, Banjarsari, Panggarangan, Cijaku, Cipanas, Curugbitung, Bojongmanik, Malingping, serta sejumlah wilayah lainnya yang memiliki kerentanan terhadap keterbatasan pasokan air bersih saat musim kemarau.
Sukanta menjelaskan, hingga saat ini BPBD belum menerima laporan resmi terkait warga yang mengalami kesulitan air bersih maupun lahan pertanian yang terdampak kekeringan. Meski demikian, pihaknya terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pemerintah kecamatan.
“Untuk antisipasi, kami telah menyiapkan tiga armada truk tangki air yang siap digunakan untuk pendistribusian air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterbatasan akses terhadap jaringan pelayanan air bersih serta menurunnya debit air tanah menjadi faktor yang menyebabkan sejumlah wilayah rentan mengalami krisis air saat musim kemarau. Akibatnya, sumur gali maupun sumur pompa milik warga berpotensi mengalami kekeringan.
Selain menyiapkan armada distribusi air bersih, BPBD juga mengerahkan relawan kebencanaan yang tersebar di setiap kecamatan untuk siaga selama 24 jam.
“Relawan kami yang ada di setiap kecamatan siaga selama 24 jam untuk membantu masyarakat yang kesulitan air bersih maupun menghadapi kondisi kebencanaan lainnya,” tutur Sukanta.
Sementara itu, Supardi, warga Kecamatan Warunggunung, mengaku mulai merasakan berkurangnya ketersediaan air tanah di wilayahnya. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi setelah beberapa pekan terakhir daerah tersebut tidak diguyur hujan.
“Kalau musim kemarau panjang biasanya kami kesulitan mendapatkan air bersih. Saat ini debit air sumur juga mulai berkurang. Dalam waktu dekat kemungkinan kami akan meminta bantuan pasokan air bersih kepada BPBD,” katanya.
BPBD Kabupaten Lebak menghimbau masyarakat untuk segera melaporkan kepada pemerintah desa, kecamatan, atau BPBD apabila mengalami kesulitan memperoleh air bersih, sehingga bantuan dapat segera disalurkan. (Ajat)

