
MetropostNews.com | Indramayu — Warga Kelurahan Paoman, Kabupaten Indramayu, tentu tak asing lagi dengan kabar tenggelamnya KM Almujib di perairan Pulau Biawak, Sabtu (28/2/2026) malam.
Di balik tragedi itu, ada kisah haru sekaligus perjuangan hidup seorang nelayan muda, Alfianto Agus Sulistiyo (20).
Alfianto menjadi satu dari dua ABK yang selamat setelah kapal 6 GT yang mereka tumpangi karam ditabrak tongkang bernomor lambung 3009.
Malam itu sekitar pukul 22.00 WIB, setelah tebar jaring dan hendak beristirahat, suara bising kapal besar membangunkannya. Ia langsung sadar ada bahaya dan membangunkan rekan-rekannya.
Tak lama kemudian, tabrakan terjadi. Kapal tenggelam. Dari delapan orang di atas kapal, hanya Alfianto dan Carudin (48) yang berhasil bertahan hidup. Dua orang ditemukan meninggal dunia, dan empat lainnya masih dalam pencarian.
Di tengah dinginnya laut malam itu, Alfianto memilih untuk tetap tenang. Ia tak ikut panik berteriak. Menurutnya, berteriak hanya akan menguras tenaga, apalagi kecil kemungkinan terdengar di antara bising mesin kapal.
Berbekal pengalaman melaut sejak lulus SD, bahkan pernah menjadi ABK di Taiwan selama tiga tahun, ia berusaha bertahan. Makanan yang terapung dikumpulkannya, lalu dimakan agar tetap bertenaga.
Menjelang fajar, harapan datang. Cahaya lampu kapal nelayan KM Sri Mulya terlihat di kejauhan. Sekitar pukul 04.30 WIB, Alfianto dan Carudin berhasil dievakuasi.
Namun duka tak terelakkan. Rekannya, Asep Agustina (24), tak mampu bertahan. Tenaganya habis di tengah perjuangan.
“Saya lihat langsung pas Asep tenggelam,” tutur Alfianto lirih.
Ternyata, tragedi di Pulau Biawak bukan yang pertama bagi Alfianto. Sebelumnya ia pernah terseret jaring hingga hampir tenggelam, dan pernah juga mengalami kapal terbalik di perairan Papua. Namun takdir masih memberinya kesempatan hidup.
Sang ayah, Tumino (60), mengaku anaknya memang punya jiwa laut sejak kecil, meski bukan berasal dari keluarga nelayan. Sejak lulus SD, Alfianto sudah memilih menjadi ABK.
Meski trauma, Alfianto tak kapok. Bahkan ia menawarkan diri untuk ikut membantu Tim SAR mencari rekan-rekannya yang masih hilang di perairan Pulau Biawak.
Di tengah duka dan rasa kehilangan, Alfianto hanya menyimpan satu doa: semoga kawan-kawannya yang masih hilang segera ditemukan.
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua, betapa keras dan berisikonya perjuangan para nelayan demi menghidupi keluarga, terlebih menjelang Lebaran.
Semoga para korban yang meninggal mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
(Arrie tharina)
