
etropostNews.com | Lebak – Angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Lebak sepanjang tahun 2025 masih terbilang tinggi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak, tercatat sebanyak 1.030 kasus DBD terjadi pada periode Januari hingga November 2025.
Dari jumlah tersebut, dua orang pasien dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Kasus DBD hampir merata terjadi di seluruh wilayah Kabupaten Lebak.
Kepala Seksi Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Lebak, Rohmat, mengatakan data tersebut merupakan hasil laporan rutin dari seluruh puskesmas yang ada di Kabupaten Lebak.
“Data kasus DBD ini kami peroleh dari laporan rutin setiap puskesmas di wilayah Kabupaten Lebak,” kata Rohmat, Selasa (23/12/2025).
Ia menjelaskan, sebaran kasus DBD paling banyak terjadi di wilayah kerja Puskesmas Rangkasbitung dengan jumlah 125 kasus. Disusul Puskesmas Malingping sebanyak 99 kasus, Puskesmas Maja 60 kasus, dan Puskesmas Kalanganyar 56 kasus.
“Secara keseluruhan, penderita DBD tersebar di 43 puskesmas yang ada di Kabupaten Lebak. Hanya satu puskesmas yang tidak mencatat kasus DBD, yakni Puskesmas Cirinten,” ujarnya.
Rohmat mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di tengah curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
“Curah hujan yang tinggi bisa memicu munculnya banyak genangan air. Ini menjadi tempat favorit nyamuk DBD untuk berkembang biak, sehingga masyarakat harus lebih waspada,” jelasnya.
Ia meminta masyarakat mengaktifkan kembali kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M, yakni menguras, menutup, serta mengubur atau menimbun barang-barang bekas yang berpotensi menampung air. Selain itu, masyarakat juga diimbau menggunakan Abate pada bak mandi dan tempat penampungan air lainnya.
“Langkah-langkah sederhana ini sangat efektif untuk memutus siklus hidup nyamuk penyebab DBD,” kata Rohmat.
Selain PSN, masyarakat juga diminta mengoptimalkan kegiatan gotong royong menjaga kebersihan lingkungan serta membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Rangkasbitung, Yayang Citra Gumilar, menyatakan pihaknya terus menggencarkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya terkait pencegahan penyakit akibat gigitan nyamuk di musim hujan.
“Kami rutin melakukan sosialisasi dan edukasi agar masyarakat lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Dengan meningkatnya curah hujan, upaya pencegahan harus dilakukan bersama-sama supaya kasus DBD tidak terus bertambah,” ujarnya. (Apuh)
