METROPOSTNews.com | Taliabu – Hujan lebat yang melanda wilayah kecamatan Taliabu Utara Kabupaten Pulau Taliabu Maluku Utara (Malut) pada beberapa hari terakhir menyebabkan jembatan alternatif di sungai Samada, desa Natangkuning mengalami kerusakan yang sangat serius, Selasa (22/02/2022).
Nampak fisik dari penyeberangan alternatif yang menelan anggaran ratusan juta lebih itu kini tersisa puing – puing yang berserakan di sekitar bantaran sungai.

Sejumlah material, baik seperti tiang, papan maupun besi penyanggah sekejap hilang tersapu oleh derasnya banjir yang terjadi, Senin (21/02) pagi kemarin.
Disayangkan, Jembatan alternatif sungai Samada dikerjakan secara swadaya oleh warga dari beberapa desa, Nunu, Tikong, Todoli, Sahu dan beberapa desa lainnya yang memakan waktu selama 3 bulan lebih menggunakan anggaran dari berbagai pihak.
Itupun baru 52 hari digunakan usai diresmikan pada tanggal 01 Januari tepatnya pada awal tahun 2022.
Akibat Kerusakan akses penyeberangan tersebut, aktifitas lalu lintas baik dari arah Taliabu Utara ke kecamatan lain seperti Lede, Taliabu Barat Laut hingga ke kota Kabupaten Pulau Taliabu (Bobong) menjadi terhambat, begitu pula sebaliknya.
Nampak beberapa pengendara yang akan melintas hanya bisa bertahan di kedua sisi sungai.
Sembari membantu pengendara yang akan berlalu lalang nanti, beberapa warga dari desa Nunu, Tikong yang tergabung dalam kepanitian pembangunan jembatan alternatif sebelumnya, saat ini telah menyediakan rakit berbayar dengan tujuan akan kembali mengumpulkan dana untuk pembuatan jembatan alternatif yang baru.
“Untuk sementara kita akan melayani pengendara dengan rakit bambu, sambil mengumpulkan dana seadanya untuk membuat jembatan alternatif yang baru. Saat ini teman teman sementara melakukan survei, mencari kayu untuk bahan jembatan nanti” Ucap Jali, warga desa Nunu kepada wartawan saat ditemui di areal sungai.
Tak Patah arang untuk tetap membangun jembatan alternatif yang baru bagi warga desa Nunu Tikong serta desa desa lainnya di pesisir Taliabu Utara adalah, besarnya manfaat yang sudah pernah dirasakan ketika hadirnya buah tangan warga akan pembuatan jembatan alternatif sungai Samada yang sebelumnya meski hanya berusia sesaat.
“Kita tetap harus bikin, biar beberapa saat saja kemarin, tapi kita bisa merasakan kenyamanan akan pentingnya jembatan. Mau kelahan atau sekedar ke desa- desa tetangga atau ke kota kabupaten yang mengharuskan untuk melewati sungai itu, kita tidak merasa khawatir lagi ketika ingin kembali dan melintas pada malam hari. Hanya kita akan evaluasi, dimana kelemahan kelemahan dari jembatan yang dibuat sebelumnya, ” ujar salah satu warga Nunu yang juga sebagai Panitia pembangunan Jembatan Alternatif.
Amatan media di lokasi, akan ada dua rakit penyeberangan di sungai Samada. Karena di sisi lain, sekelompok warga dari desa setempat (Natangkuning) juga terlihat sedang membuat rakit yang sama untuk dijadikan akses penyeberangan alternatif berbayar sebagaimana sebelumnya sebelum adanya jembatan yang rusak tersebut. (Ihky)