
METROPOST1.COM — TAME IMPALA merupakan proyek musik yang pada awalnya berdiri di Australia sekitar 2007 an, beranggotakan Kevin Parker sebagai vokalis sekaligus gitaris, Jay Watson sebagai penyintesis, vokalis dan gitaris, Cam Avery sebagai basis dan vokalis, dan Julien Barbagallo sebagai drummer dan vokalis.
Musisi asal Australia yang telah mengeluarkan album yang bertajuk “The Slow Rush” ini mungkin banyak yang mengira sebuah band tapi nyatanya hal ini dibantah oleh pendiri dan vokalis dari Tame Impala, yaitu Kevin Parker. Kevin mengatakan anggapan publik kalau Tame Impala merupakan sebuah band adalah salah paham.
Ia mengatakan ada perbedaan antara Tame Impala versi live dan rekaman. Pada saat live, mereka memang tampil sebagai sebuah band, sedangkan saat rekaman, yang terlibat di dalamnya hanya Kevin sendiri. TAME IMPALA lebih kepada projek musik pribadi Kevin.
Setidaknya ada lebih dari 10 penghargaan dan nominasi sudah diraih. Beberapa di antaranya adalah, WAMI Awards, Roliing Stone Australia Awards, serta Grammy Awards.
Modular Recording, pasti tak asing lagi di telinga para penggemar Tame Impala. Modular Recordings merupakan sebuah label indenpenden asal Australia yang membesarkan nama Kevin dan teman-temannya.
Ketika Modular hendak mengontrak Tame Impala, mereka mengatakan jika Tame Impala merupakan sebuah band, namun hal ini disangkal Kevin. Ia menegaskan bahwa Tame Impala merupakan sebuah proyek solo yang ia kerjakan di kamarnya.
“Kalian tahu (Tame Impala) hanyalah aku yang merekam banyak hal di kamar dengan mikrofon, instrumen dan apapun,” ucapnya pada Modular.
Awalnya, label musik ini tidak setuju jika Kevin mengerjakannya sendiri, dan tidak ada bantuan dari produser.
“Untung saja, Modular mau membiarkan saya memproduseri album saya sendiri, walaupun saya tahu mereka tidak akan membiarkan saya melakukan proses mixing-nya,” lanjutnya.
Modular secara terus menerus merekomendasikan orang yang handal di bidang kepada Kevin, namun Kevin terus menolak.
Sampai akhirnya Modular menyebut nama orang yang Kevin idolakan, yaitu Dave Fridmann.
Dave adalah orang yang berada di balik dapur rekaman band seperti The Flaming Lips, Mercury Rev hingga MGMT.
Nama Tame Impala mulai dikenal dan mendapatakan banyak pendengar lewat album studio perdana yang bertajuk “Innerspeaker”. Album tersebut tercatat sebagai salah satu album terbaik sepanjang dekade versi majalah musik, bernama Pitchfork. Tak hanya itu, album yang berisi 11 lagu tersebut juga pernah berada di posisi empat teratas pada tangga lagu the ARIA Albums.
Tame Impala sering dikaitkan dengan pengalaman para pendengarnya ketika sedang “tinggi” karena nuansa psikedelik yang pekat disajikan Tame Impala. Namun, dalam wawancaranya dengan The Guardian, Kevin mengatakan ia tak pernah merasa bahwa musiknya tersebut memiliki kerterkaitan dengan penggunaan obat-obat tertentu.
“Saya selalu terkejut ketika seseorang memberi tahu saya Tame Impala mengingatkan mereka saat sedang mabuk. Saya sama sekali enggak pernah berpikir bahwa musik yang saya ciptakan itu ‘druggy’,” ujar Kevin.
Dan kita bahas album 2020 yaitu Album Tame Impala, yang bertajuk “The Slow Rush” yang merupakan pelepasan dengan penuh tekanan kreatif setelah beberapa tahun lalu, tertuang pada album Currents.
Setelah bertahun-tahun para penggermarnya mungkin menanyakan apa yang akan dilakukan Tame Impala selanjutnya?
Waktu bisa menjadi penghiburan, kutukan, menyembuhkan tetapi juga bisa membangun tekanan yang meminta untuk dibebaskan. Seperti yang dikutip pada laman Ap News.
Keberhasilan band rock Psychedelic pada 2015 lalu menjadikan Tame Impala, salah satu grup rock terdefinisi pada dekade terakhir.
“The Slow Rush” terbungkus dalam dinding elektronik, synthesizer dan pengaruh funk yang mendukung bahkan paling berani. Album ini tidak hanya diikat oleh tema waktu saja.
Keyakinan, dendam, rasa tidak aman, bagaimana seseorang menekan masa lalu yang hilang kemarin? Bagaimana mereka berubah?
Penyanyi, penulis sekaligus produser, Kevin Parker membawa seluruh perasaannya untuk mencoba membuktikan sesuatu. Parker berusaha meyakinkan orang lain atau dirinya sendiri yang tidak selalu jelas.
Lagu itu dibuat dengan jelas menggambarkan seperti rasa amarah yang sudah memuncak, dan hanya untuk dirilis. Parker menceritakan dengan penuh harapan bisa berbagi waktu lagi dengan ayahnya.
“Wanna tell you ’bout my life/Wanna play you all my songs,” tersirat dalam lirik lagunya.
Kecenderungan Parker yang teliti membuahkan hasil yang luar biasa, dengan menciptakan karya agung. Perhatikan dengan detail pada salah satu lagu di album The Slow Rush. Lagu “Posthumous Forgiveness” menggambarkan keseluruhannya.
Parker menyanyikan 12 lagu, yang mewaliki 12 bulan pada satu tahun lamanya. Lagu-lagu yang menjadi saksi perjalanannya, mengenai apa pun yang dilakukannya yaitu berdasarkan cinta dan untuk cinta. (Berbagai sumber)


