
METROPOSTNews.com | Indramayu — Sejumlah pendekar dari berbagai organisasi beladiri di tanah air mendirikan wadah baru bernama Ksatria Pribadi Indonesia (KPI). Mereka berasal dari Karate, Silat, Kungfu, Taekwondo, Gulat, Kempo, Wing Chun, Juijitsu Aikido, Kateda, Boxing, Muai Thay, Kick boxing dan lain-lain.
Pendirian KPI ini didasarkan karena seringnya terjadi kesalahan pahaman diantara sesama praktisi beladiri yang berlainan organisasi yang biasanya diawali dengan aroganisme sempit antar perkumpulan beladiri.
“Kami ingin menyelamatkan marwah beladiri Indonesia ini dengan semangat menjunjung tinggi sportivitas atas dasar persaudaraan sebangsa dan setanah air. Untuk itulah kami mendeklarasikan berdirinya KPI,” ujar Muhammad Djamil ditemui di Sekretariat KPI Jalan Pondasi nomor 24 Kampung Ambon Rawamangun Jakarta Timur, Senin (6/12/2021).
KPI didirikan oleh tiga ksatria praktisi beladiri, Master Djamil, Master Fahri, dan Sensei Sony Kertapati. Legalitasnya dari Kemenkumham tercatat pada 25 November 2020. Deklarasinya dan Milad KPI di Vila Nesya Cibereum kabupaten Bogor November lalu.
Djamil menuturkan, kehebatan KPI yaitu bisa mempersatukan sem ua aliran beladiri yang berbeda. Pria yang kerap disapa dengan panggilan Mas Benk ini mengakui tidak mudah mengajak mereka bergabung di KPI karena masing masing punya egonya merasa hebat dari yang lain hingga susah disatukan.
“Alhamdulillah, akhirnya ketika kami jelaskan, program, visi dan misi KPI, teman-teman mau bersatu di bawah wadah KPI. Kami punya slogan yaitu menjalin persaudaraan sesama insan bukan lembaganya karena kalau lembaganya kan sudah ada yaitu KONI,” paparnya.
Mas Benk menjelaskan, sejarah pendirian KPI bermula dari Persaudaraan Praktisi Beladiri Indonesia (PPBI) pada tahun 2019. Latar belakang berdiri nya PPBI ini karena rasa keprihatinan dan kepedulian yang tinggi terhadap dunia olah raga khusus nya Beladiri di mana sering kali terjadi kesalahpahaman diantara sesama praktisi beladiri yang berlainan beladiri selama ini. Kesalahpahaman yang diwarnai dengan cekcok, saling mengejek, mencela dan menghina ini tak jarang berakhir dengan perkelahian diantara mereka.
Pada saat PPBI kami mau daftarkan ke Kemenkumham ditolak karena sudah ada yang pakai nama itu. Akhirnya, salah seorang deklarator yaitu M. Djamil mengusulkan penggantian nama dari PPBI menjadi Ksatria Pribadi Indonesia (KPI). Usulan perubahan nama itu diterima 2 deklarator lain sehingga dengan kesepakatan nama KPI kemudian nama KPI didaftarkan ke Kemenkumham pada 25 November 2020 lalu dan keluarlah SK KUMHAM Nomor AHU 0010982.AH.01 07.TAHUN 2020.
Kemunculan ide pendirian wadah KPI ini tak lepas dari diskusi yang panjang yang diprakasai Master Beladiri yang beraliran ilmu Kateda, yaitu Master Djamil, Praktisi Beladiri Karateka Kyokushinkai. Sensei Sony Kertapati dan Master Silat Fahri Gunawan.
“Tanggap keluarnya SK KPI yaitu pada 25 November itu kemudian dengan kesepakatan ketiga pendiri ditetapkan sebagai Hari Kelahiran KPI,” pungkasnya.
Pada kesempatan Deklarasi KPI, Ketum terpilih dr. Darnus melantik Ketua DPD KPI Jakarta Dan DPD KPI Jawa barat serta juga pelantikan Ketua KPI DPC Kabupaten Indramayu, Sutrisno, dan Ketua KPI DPC Bekasi Kota, Mas Mugi, dan Ketua KPI DPD Jawa Barat terpilih, Sony Kertapati.
“Alhamdulillah, di usia nya yang masih relatif muda KPI telah berhasil membentuk Para Ketua KPI tingkat DPD/ Provinsi ditambah KPI tingkat DPC/ Pengcab. Untuk tingkat DPD KPI sudah ada di 20 Provinsi,” pungkas dr. Darnus. (Didi saputra)

