
Metropostnews.com – Pilkada serentak 2024 sudah bergulir, semua bakal calon sudah mulai melakukan manuver politiknya guna meraih kemenangan.
Media – Media lokal dan nasional mulai menancapkan peran’nya, sebuah keniscayaan framing media mulai merangsak dalam berita – berita kontroversial, khususnya dalam konteks isu-isu politik dan sosial di pilkada 2024 ini.
Metode pola-pola framing mulai diterapkan oleh media baik cetak atau online dan tentu akan berdampak terhadap persepsi publik.
Bukan hal baru bahwa media sering menggunakan pola framing konflik, human interest, ekonomi, dan moralitas dalam memberitakan isu-isu kontroversial dan Pola-pola ini tidak hanya mempengaruhi cara masyarakat memahami peristiwa tertentu tetapi juga dapat membentuk opini publik dan mempengaruhi sikap mereka terhadap isu-isu tersebut.
Bisa dipastikan disini kita akan menemukan adanya bias politik, komersial, dan kultural dalam peliputan berita oleh media.
Bias-bias ini dapat mempengaruhi objektivitas berita dan memperkuat polarisasi di masyarakat. Bahkan dampak jangka panjangnya dari framing media ini bisa meliputi perubahan sikap dan nilai masyarakat, serta pembentukan agenda publik yang dapat mempengaruhi kebijakan publik.
Oleh karena itu, literasi media menjadi sangat penting untuk membantu masyarakat dalam menilai dan mengkritisi berita secara objektif bukan berdasarkan kepentingan politis atau “deal or no deal” redaksi dengan elit politik.
Peningkatan literasi media dan tanggung jawab yang besar sangat diperlukan bagi media dalam peliputannya. (Andryan)
