
Metropostnews.com – Betapa jatuh cinta dan takjubnya penulis terhadap Grup band legendaris Koesplus yang sangat populer dimasanya sekitar tahun 70-an, Koes Plus salah satu grup yang berani berbeda dengan genre musik yang ada pada waktu itu.
Tak heran jika saat itu banyak anak muda yang keranjingan genre musik anyar yang datang dari daratan Eropa.
Koes Plus asal mulanya grup band dari keluarga Koeswoyo, terdiri 4 personil kakak beradik, yakni Toni Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo dan Nomo Koeswoyo, lebih dikenal dengan Koes Bersaudara.
Dikomando Toni Koeswoyo, lirik tembang saat itu yang tengah ngentren adalah genre rock ala The Beatles, grup asal Liverpool Inggris yang terkenal di seantero dunia.
Dengan semakin terkenal nya Koes Bersaudara, seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zamana akhirnya Nomo Koeswoyo memilih keluar dari Koes Bersaudara.
Ada perbedaan pendapat dengan tiga saudara lainnya, Nomo lebih memilih bisnis dari pada cari uang lewat lagu atau band Koes Bersaudara.
Sedangkan tiga bersaudara Koeswoyo tetep bertahan di jalur band, padahal saat itu Koes Bersaudara sedang naik daun. Toni Koeswoyo anak cikal Koeswoyo, putar otak.
Ia pun mencari pengganti adiknya paling bontot Nomo Koeswoyo. Tak lama berselang waktu saat itu Toni ketemu Murry sang penggebuk drum.
Mulai saat itulah nama dari Koes Bersaudara menjadi KOES PLUS karena telah bergabung’nya Murry.
Sejak bergabungnya Murry nama grup band Koes Plus semakin melejit, bahkan sempat dilarang Presiden Soekarno karena lirik lagu cenderung berkiblat ke The Beatles yang ngerock dan kebarat-baratan !!!
Saat itu Indonesia sedang mencuatnya anti Amerika (imperialisme). Sejak dilarang Koes Plus banyak menciptakan lagu bernuansa nasionalis dikenal dengan lagu Nusantara. Bahkan lagu liriknya tidak satu judul hampir mencapai sepuluh lagu.
Dalam bermusik, ada suka dukanya. Bukan hanya mencicipi bayaran termahal, Koes Bersaudara pernah juga mengalami getirnya kehidupan, bermalam di ‘hotel prodeo’. Karier bermusik yang dirasakan Koes Plus tak melulu mulus dan tanpa hambatan. Karena dianggap terlalu kebarat-baratan setelah sempat membawakan lagu The Beatles, Koes Bersaudara dijebloskan ke penjara Glodok, tepatnta tanggal 29 Juni 1965.
Mereka dibui begitu saja tanpa melalui proses pengadilan terlebih dahulu. Koes Bersaudara lantas dibebaskan tanggal 29 September 1965, sebelum pecahnya peristiwa G30S/PKI. Waktu itu musik mereka dianggap bermuatan politik kapitalis.
Seperti dikatakan sedangkan di Indonesia, saat itu justru sedang menggalakkan gerakan anti kapitalis. Pemerintahan Indonesia waktu itu menyebut ‘musik ngak-ngik-ngok’ yang kebarat-baratan adalah terlarang, lantaran berseberangan dengan cerminan kepribadian bangsa.
Yok bercerita kepada media, Bung Karno ketika itu melarang untuk tidak membawakan ‘musik yang Elvis-Elvisan (Presley). Padahal menurut Yok, band mereka tak ada maksud tertentu selain dari menghibur para penggemarnya.
Yok yang merasa sangat disudutkan atas kasus tersebut lalu menambahkan, mereka hanya membawakan sedikit musik Barat. Selebihnya, Koes Bersaudara tetap menyanyikan lagu-lagu mereka sendiri, di antaranya Senja, Telaga Sunyi hingga Dara Manisku.
Dirinya dan keluarga Koes tak pernah ada niatan untuk menodai kedaulatan Republik Indonesia. Malahan, mereka ingin mengharumkan nama Bumi Pertiwi melalui karya musik.
Perjalanan Koes Plus kemudian mulai surut di tahun 1980. Namun selama masa itu, Yon meluncurkan album solonya. Kemudian di tahun 1993, musisi kawakan Deddy Dores sempat bergabung meski tak berlangsung lama. Setelah Deddy Dores mundur, bergabunglah Andolin Sibuea dan Jack Kasbie.
Menjelang akhir hidupnya, Toni Koeswoyo berhijrah dari Nasrani (Kristen) dan masuk Islam, kerap menciptakan lagu bernuansa religi.
Nah dalam masa akhir hidupnya ia pun banyak menciptakan tembang islami (kasidah), tapi liriknya kental dengan genre rock religi. Milik Ilahi adalah lagu nuansa religi terakhir yang diciptakan Toni Koeswoyo.***
