
METROPOST1.COM, Jakarta — Unggahan berbentuk sindiran kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dari Plt Ketua Umum PSI Giring Ganesha yang juga merupakan eks Nidji menuai banyak kritik. Hal ini terlihat dari beberapa tokoh politik ataupun aktivis yang menyebutkan bahwa apa yang disampaikan Giring eks Nidji ini tidak memiliki nilai, salah satunya adalah eks Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai.
Sebelumnya, ramai di media sosial mengenai unggahan video dari Plt Ketua Umum PSI Giring Ganesha, dimana pada video tersebut dirinya menyindir Anies Baswedan dengan menyebutnya pura-pura perduli dengan penderitaan orang banyak di tengah pandemi.
“Pura-pura peduli, adalah kebohongan Gubernur Anies Baswedan di tengah pandemi dan penderitaan orang banyak. Rekam jejak pembohong ini harus kita ingat sebagai bahan pertimbangan saat pemilihan nanti di 2024,” ujar Giring pada video dengan durasi 4 menit 54 detik.
Video tersebut akhirnya mendapatkan berbagai macam reaksi, salah satunya adalah Natalius Pigai yang mempertanyakan siapa sebenarnya Giring Ganesha ini.
“Siapa itu Giring? Kita tidak kenal. Anies sudah menjadi mesin politik dan mesin perubahan di negara ini sejak mahasiswa,” cuit Natalius Pigai melalui akun Twitternya.
Bukan hanya Natalius Pigai, Ketua DPW PAN DKI Jakarta, Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio mengkritik unggahan Giring Ganesha tersebut yang ia anggap sebuah bentuk protes tanpa solusi.
“Menurut saya lebih baik kalaupun mau protes harus ada juga solusinya, jangan hanya sekadar menyerang,” ujar Eko di DPR RI, Rabu (22/9).
“Jadi buat saya, sahabat saya giring ya, apapun bentuknya kalau mau lakukan sesuatu jangan hanya beropini, tapi juga tawarkan solusinya,” tegasnya.
Ketua DPW PAN DKI Jakarta itu mengingatkan bahwa yang dilakukan Giring ini adalah sebuah tindakan tanpa solusi.
Unggahan Giring Ganesha tersebut terus menuai perbincangan dan kritik dari banyak tokoh dan tentu saja warganet yang tidak mau kalah berkomentar.
Bahkan, dalam video tersebut Giring menyebut Anies Baswedan mengabaikan penderitaan rakyat dan lebih memilih tidak membatalkan agenda Formula E yang biayanya hingga Rp 1 triliun.
“Dia mengabaikan tekanan rakyat yang meminta dia membatalkan rencana balapan mobil Formula E. Dan mengeluarkan Rp 1 triliun, Rp 1 triliun uang rakyat untuk acara tidak berguna itu.”
“Anies pembohong. Jangan Sampai Indonesia jatuh ke tangan pembohong, jangan sampai jatuh ke Anies Baswedan. Seorang pemimpin sejati akan berupaya sekeras mungkin untuk menyelamatkan rakyat, menyelamatkan kepentingan yang lebih besar. Seorang pembohong tidak demikian”. (Aditya)


